Y A D I KA

Hhh... Kalau ke warnet siang-siang, ternyata lemot yah internetnya. Tapi inilah waktu yang pas untuk gue menulis tentang my school...

Sebelum hilang rasa ini, aku akan menulis tentang sebuah sekolah yang telah menyelamatkan banyak sekali anak-anak dari kehilangan. Senangnya, aku adalah salah satu dari orang itu...

Bermula dari senyuman yang terus aku pampang di muka, aku datang ke sekolah itu. Kelas sepuluh - empatlah kelasku. Dan anak laki-laki berkulit putih yang kurus adalah teman sebangku pertamaku, Kendra namanya.

Aku akan mendeskripsikan sedikit kehidupan dari anak ini. Ia mempunyai satu hobby yang sama denganku, yaitu adalah "NONTON!!". Hahaha... Aku senang sekali dengannya waktu itu, karena `nyambung` soal film. Ia juga menyukai dance. Dan tak lupa, kalau ia juga menyukai menggambar manga. Gambar ala jepang yang unik dan bisa di bilang adalah penyimpangan anatomi tubuh manusia (pikir sendiri, kenapa menyimpang ^^). Gambar pertama yang selalu aku ingat adalah seorang guru yang mengajar geografi, Ibu Sumarmi namanya. Ia berkulit sawo matang, tinggi, berambut pendek seleher, dan memiliki karakter mengajar yang agak tegas.

Ya itulah hobby dari Kendra. Sayang saja, ia kurang memperhatikan kesehatannya. Menjadikan dirinya suka batuk-batuk, dan kadang ada sedikit darah yang keluar dari ludahnya. Waw!! Padahal orang tuanya kaya loh... Dasar anak bandel... ^^

Seterusnya, aku dipindahkan oleh guru untuk duduk bersama Gendhy Wardana. Kata orang-orang, ia hampir mirip sepertiku. Iya sih... Tapi gak ah... Hehehe... Gendhy ini mempunyai saudara yang kerja menjadi guru agama Budha di Yadika. Aku lupa nama gurunya siapa, yang pasti gurunya kalem deh...

Lanjut...
Di kelas sepuluh, aku menjadi suka akan yang namanya keberagaman perbedaan-perbedaan yang ada. Membuatku seakan bisa berteman dengan siapa saja di Indonesia. Tapi waktu itu masih ada yang harus diperbaiki... Sifat dan karakter aku masih belum terbentuk dengan sempurna. Jadinya, suka follow orang-orang gitu deh... Maaf ya... ^^

Di kelas sepuluh, aku juga bisa merasakan satu pribadi yang benar-benar mengasihiku. Ya, aku diselamatkan di kelas satu. Semua karena aku memulai mencari Kerajaan Allah dahulu, lalu semua ditambahkan padaku(we must confess it!). Lalu sesudah itu, semua jalanan yang ada di depanku seperti licin dan aku bisa melewatinya dengan mudah. Banyak orang-orang yang Ia ijinkan untuk aku dapat mengenalNya lebih... Thanks a lot to Tesar and Ko Riski... ^^

Itulah masa-masa kelas satuku, yang aku persingkat saja ya...

***

Selanjutnya adalah kelas sebelas.

Tahun dua ribu sembilan, aku memutuskan untuk eksis di kelas sebelas ipa dua. Kelas yang pertama kalinya di bilang "kelas buangan" ini, ternyata sangat membuatku bahagia. Mengapa bisa? Lanjut saja...

Aku tak akan melupakan orang yang duduk disebelahku saat itu. Ricko namanya. Ia kembaran dari Ricky, temanku juga waktu kelas sepuluh. Entah mengapa, aku begitu antusias untuk meneliti anak kembar sampai sekarang. Hahaha... Ya, yang penting waktu itu banyak sekali kejadian mati-matian saat aku bersama dia.

Selain itu, bukannya sombong ya... Tapi kelasku yang berhasil mendapatkan penghargaan sebagai kelas terbaik untuk siswa dan siswi yang sering masuk. Dan juga, kami mendapatkan predikat sebagai kelas yang kreatif...

Seni budaya adalah pelajaran yang menyenangkan untuk kebanyakan anak di kelasku. Lebih tepatnya adalah prakteknya. Karena saat itu sedang belajar teater, dan kamipun menjadi bersinar lagi, karena menampilkan pensi teater yang menarik di semester dua. Ya... Walaupun dengan susah payah juga, dalam hal mengajak latihan, dan yang lainnya...

Hhh...Makasi banget deh untuk my class yang JAGO banget!!(jadi inget waktu sering latihan di lapangan taman kencana. Hehehe...)

***

The last but not the list, adalah kelas dua belas yang begitu menyentuh jiwa (lebay..!!)

Di kelas ini, akupun pindah tempat duduk lageh. Karena waktu itu Ricko memutuskan untuk duduk sama orang yang pintar, yaitu Renddy(Dasar!! Berarti aku bodoh dong!). Itu menjadikan aku harus duduk dengan Adelia, anak baru dari bangka waktu kelas sebelas. Tapi tidak terpaksa dong... Malah aku senang. Ia begitu bersosialisasi, baik, lucu, dan bisa memimpin dengan tiap kata-kata yang keluar dengan serius. Aku tahu dari raut  mukanya.

Sayangnya di tahun terakhir ini, malah kelas kami mendapatkan penurunan. Dulunya rank 1 untuk murid yang sering masuk, malah jadi rank ke berapa (sory lupa. Yang pasti gak terakhir...).

Begitu juga aku. Aku mendapatkan penurunan yang dasyat untuk belajar. Aku menjadi suka tidur dalam kelas. Apalagi sewaktu ke dua guru favorit kami di ganti. Guru Biologi dan Fisika... Perubahan yang luar biasa. Untungnya semua bisa beradaptasi dengan cepat.

Sebenarnya aku tak boleh bilang penurunan. Aku yang menurun, kelasku tidak pernah. Soalnya pernah berkali-kali terjadi ketidak adilan oleh guru-guru yang akhirnya menurunkan kelas kami. Saat lomba bahasa, study tour, dan ada lagi...

Tak apalah... Hhh... Tak akan pernah aku lupakan di saat sang ketua kelas, Febrian Dana (pacar Adelia sampai sekarang, dan sering di panggil Jawa) membuat kami semua mengungkapkan unek-unek kami semua tentang yang namanya "gang-gangan" di dalam kelas.

Kelas kamipun akhirnya mendapat predikat sebagai kelas berkarakter Theaterical.

Yang pastinya mah, tiap tahun terakhir itu semua anak-anak akan pusing, stress, dan juga ketakutan. Ya iyalah, UN gitu loh..

***

Okeh, itulah masa-masa sekilas tentang sekolahku. Dan yang terakhir adalah perpisahan.

Perpisahan kamipun terjadi di hotel Penin Sula. Atau yang Ria dan aku biasa sebut waktu itu adalah Venezuela.

Untuk pertama kalinya loh, aku memakai Jas hitam yang membuatku terlihat beda. Tapi, semuanya memang terlihat beda waktu itu. Apalagi cewek-ceweknya yang di suruh untuk pakai kebaya, bukannya gaun. Hahaha... Tapi bagus-bagus juga sih...

Yang kami semua lakukan pertama kali adalah foto-foto waktu itu(sudah pastilah!!). Selanjutnya kami makan yang banyak dan enak. Andai minumannya bukan air putih saja... Sebal!!

Tak lupa, kalau kelasku yang pertama di suruh untuk menampilkan pertunjukan kami. Lagu "Rumah Kami" yang dikreasikan abis!! Dan juga puisi dari Kartiwi. Pertunjukkan yang berbeda sendiri...

Selanjutnya seperti biasa : Kata sambutan dari kepala sekolah, perwakilan orang tua murid dan murid itu sendiri. Lalu acara-acara lagi dari semua kelas. Hingga akhirnya penutupan yang menyedihkan...

Temanku, Evi, ia memeluk Ma`am Jullie waktu sedang salam-salaman. Beberapa anak nakalpun ada yang menangis saat itu.

Saat mau pulangpun, Kendra memelukku, dan menjadikan jasku sedikit kotor karena kena sesuatu yang keluar dari hidungnya.

Hahaha... Moment-moment yang tak akan pernah aku dan teman-temanku lupakan.

***

Friends, jangan lupa ya membeli novelku tentang kehidupanku di sekolah kalau sudah jadi.
Tulisan ini hanya berupa coret-coretan belaka. Jadi,,, tunggu sajah... Okeh okeh... ^^

GBU

Anton Suryadi

Independent but not a sociopath