Seperti Inikah Nasib Seorang Guru?

Tak kusangka kalau hari itu akan terjadi juga akhirnya. Hari dimana aku akan mengucapkan salam perpisahan secara tersembunyi dan misterius di hadapan salah seorang anak yang pernah aku berikan hadiah di acara hari ulang tahun di rumahnya. Hari itu adalah hari terakhir aku berusaha menjadi seorang pengajar untuknya dengan waktu yang lumayan singkat.... Yup, hari terakhir aku mengajarinya karena ia tak bisa lagi terus diajari aku.

Aku datang seperti biasa ke tempat les itu yang letaknya di Duta Bandara, Dadap, Tangerang. Dengan menggunakan ojek yang selalu aku bayar sebanyak empat ribu rupiah, atau lima ribu rupiah kalau ojeknya lagi ngotot(kadang), aku pun turun dari ojek dan membayarnya. Lalu aku segera masuk ke dalam dengan selalu merangkul tali tas yang terbuat dari kertas plastik kuat berisi buku-buku, dan juga tubuhku selalu mengenakan kemeja serta celana panjang agar terlihat kalau aku berwibawa( XD ). Habis masuk, aku langsung ke dalam kelas tempat aku mengajar, dan segera membereskannya dengan cara menyalakan lampu dan AC. Nah, kalau sudah selesai-aku menunggu deh sampai anak-anaknya datang.

Semenit, dua menit... Hhh... sambil main Handphone yang baru saja kembali dari pusat karena rusak kameranya(yang ternyata masih saja rusak kameranya. Menyebalkan!).

(Seharusnya di bagian ini, gua pengen bikin dialog. Tapi gak deh... tar kepanjangan...).

Tiba-tiba saja Bapak yang umurnya kira-kira enam puluh tahunan, yang memang bertempat tinggal di tempat les itu-datang menegurku. Ia memberitahuku kalau hari itu les sedang diliburkan, karena bosku sedang pergi entah kemana. Mungkin sedang ada urusan mendadak. Aku pun mulai pasrah dan ingin segera beranjak keluar untuk pulang.

Tapi, sesuatu yang mengejutkan terjadi. Salah seorang muridku tiba-tiba datang dengan sepeda kecil disertai tubuh mungilnya(iya lah... baru kelas lima).

Namanya John dan ia adalah seorang anak laki-laki yang punya semangat luar biasa. Ia juga cukup pintar dan mau mengikuti pelajaran dengan baik. Tapi sayangnya, ia punya bentuk tulisan yang kurang bagus, kacau, dan menyebalkan saatku membacanya. Aku selalu menyuruhnya untuk menulis yang rapih karena akan sangat berguna sekali untuk dirinya jika sudah besar nanti(kayak udah gede ya gue... hehe).

Ia tiba-tiba datang begitu saja karena tak mendapat kabar kalau hari itu les sedang diliburkan. Semuanya karena ia jarang melihat Handphonenya, atau mungkin sudah ganti nomor dia....

Semangat mengajarku sebenarnya sudah habis, tapi terpaksa aku bangkitkan kembali karena sangat penting sekali dalam hal ini. Lalu aku segera mengajaknya masuk ke dalam kelas yang sudah dingin. Pelajaran pun seperti biasa aku mulai dengan mengatakan,"What day today?" Lalu terserah aku mau mengajar apa lagi... hehehe....

"Sir, aku udah gak bisa ngeles di sini lagi." Hatiku tersentak waktu ia mengatakan kalimat tersebut waktu kami sedang ngobrol-ngobrol. Aku pun menanyakan mengapa, dan ia menjawab kalau uang SPPnya naik sehingga orang tuanya memutuskan untuk memberhentikan ia dari les inggris ini. Hhh....

Sedih dan ingin menangis(jujur) aku pendam seperti sedang menekan per agar tidak mengembang ke atas. Pelajaran dan obrolan tetap aku lanjutkan seperti biasanya. Dan selama satu jam, akhirnya aku selesaikan semuanya. Pas-pasan akan ada komsel jam tujuh di ruangan itu, aku jadikan alasan saja deh untuk menghentikan pelajaran....

"Greetings!"seruku.

"Thank you Sir, good bye Sir, See you on........"ia kebingungan. Lalu ia melanjutkan dengan kata,"Next year" tapi langsung aku gantikan dengan kata,"Next time".


Akhirnya ia pulang dengan menggunakan sepeda kecilnya lagi. Sedangkan aku membantu Bapak yang aku lupa namanya siapa(padahal sudah dua tahun. Ckck) melebarkan tiga alas ke lantai agar dapat digunakan untuk duduk-duduk saat komsel. Lalu aku mengucapkan salam pulang ke Bapak dan Ibu.

***

Aku pernah mengalami perasaan seperti itu sebelumnya. Saat murid pertamaku yang bernama Putri akhirnya memutuskan dirinya untuk menjadi murid pertama yang berhenti juga. Perasaanku gundah-gulana, dan aku hanya bisa bersedih di dalam hati, secara rahasia dan misterius seperti yang kukatakan di awal paragraf.

Habis itu dilanjutkan oleh Ester yang chubby, dan kali ini adalah murid yang pernah aku datangi di acara ulang tahunnya.

Aku masih ingat kejadian di saat ulang tahunnya dirayakan. Saat itu hujan besar, dan aku kebingungan mencari rumahnya. Sampai pada akhirnya, teman semasa SMPku, Cristy, membantuku ketika aku memutuskan untuk ke rumahnya saja. Rumahnya pun kutemukan dan acara sudah hampir selesai saat itu. Dengan ekspresi kalemnya, John mendatangiku dan menemaniku karena aku tak mengenal semua orang yang ada di dalam rumahnya. Hahaha... ia sungguh terlihat lucu saat sedang berada di rumah bersama teman-teman dan keluarganya.

Menjadi seorang guru itu memanglah tak mudah, aku menyetujuinya. Perlu sebuah rencana yang matang sebelum mengajari seseorang agar para murid dapat terarah dan mengerti. Sering aku tak melakukan hal tersebut, sehingga aku sulit sekali saat mengajar. Sudah pastilah semua karena kemalasanku pastinya....

Dan yang paling tidak mudah adalah saat menyasikkan satu persatu murid yang sudah kita ajari dan kita kenal, begitu saja pergi. Sudah pastilah mereka akan lupa pada kita jika sudah dewasa nanti. Soalnya aku saja sudah melupakan guru-guru di masa laluku. Tapi semoga saja murid-murid yang pernah aku ajari tak seperti aku... semoga..........................................

Aku saja seperti ini jadinya walau hanya sebagai pengajar yang tak baik dan baru setahun. Apalagi sama guru-guru yang mengajar di sekolah-sekolah ya?? Kalau SD, sudah mengenal enam tahun.... SMP dan SMA masing-masing tiga tahun.... Aku pasti akan mati rasa itu.... Ckckck (lebay gak sih?? Tapi beneran).

Yang pasti adalah... terima kasih untuk Pak Guntur yang telah memberikanku sebuah pengalaman luar biasa ini. Dan juga anak-anak yang sudah rela diajari oleh seorang Anton Suryadi ini hehehe....

Putri, Ester, John, Erika, Nadia, dan Franki... Kalian akan menjadi tokoh-tokoh yang LUAR BIASA nantinya!!!


Gbu all....

Anton Suryadi

Independent but not a sociopath