Papaku Tak Akan Pulang Lagi


Tak disangka, kalau papaku yang biasa dipanggil "Pak Edi" ini, akan meninggal diusianya yang ke lima puluh tujuh tahun karena terkena serangan jantung. Rasanya masih terlalu cepat dan begitu tak bisa kuterima kenyataan ini dengan mudah.

Pada hari Jumat siang, tanggal lima belas Oktober, tahun dua ribu sepuluh, tiba-tiba Leo, teman semasa SMPku yang suka membantu, memberitahukan ke aku kalau ciciku ingin berbicara denganku lewat ponselnya disaat aku sedang bekerja menjadi guider  di UBM pada waktu ada event Edufest ke 4. Karena ciciku masih belum tahu kalau nomorku sudah diganti karena ponselku itu habis kecopetan, jadinya ia menelpon Leo (untung ada nomor teleponnya). Waktu aku terima, terdengar sekali kalau ciciku sedang menangis. Aku disuruh untuk segera pulang karena suatu hal telah menimpa papaku. Awalnya sih kurang terdengar, dan aku agak kesal, tapi lama kelamaan akhirnya terdengar juga kata-kata yang selama ini kumohon kepada Tuhan untuk tak terucap dulu.

Aku tersentak kaget saat mendengar seruan dari ciciku yang sambil menangis saat itu: "Ton… papa meninggal!!"

Aku pun memutuskan untuk mengambil tas, memakai jaket, dan segera pulang tanpa banyak basa-basi sama teman-teman yang waktu itu ikut kerja juga. Kaget dan kebingungan, itu yang aku rasakan. Ingin menangis saja, rasanya tak bisa. Dan jujur, di dalam hatiku, aku masih mengira kalau papaku itu, masih belum meninggal alias masih dalam keadaan kesakitan atau apa saja deh. Rasa tak mau menerima kenyataan sungguh melekat erat di dalam diriku waktu itu. 

Hingga akhirnya pada waktu di perjalanan pulang yang agak lama, sampai-sampai ciciku menjadi menelponku berulang kali, menanyakan keberadaan aku, disaat ia sudah tahu nomor baruku yang tertempel di dalam ponsel second milikku. Dan, di dalam bis, metromini, angkot dan ojek, rasa-rasa ingin menangis sudah mulai keluar disaat aku tiba-tiba teringat tentang kenangan-kenangan waktu aku pernah ngobrol dan pergi bersama papaku. Tapi aku tak ingin mengeluarkannya. Karena aku tak ingin sampai diperhatikan oleh orang-orang yang sama sekali belum mengenalku. Sangat tak enak rasanya jika sampai terjadi hal seperti itu. Lebih baik, aku kirimkan saja sebuah SMS ke orang yang sudah mengenalku, dan aku pun sudah mengenalnya. Dan benar saja. Langsung aku teringat sahabatku, Yoel. Ia adalah orang pertama yang kuberitahu waktu itu.

Hampir dua jam sesampainya aku di tempat tujuan. Bukan di tempat tinggal keluargaku yang ada di perumahan Villa Taman Bandara, melainkan di rumah semasa kecil papaku, yang ada di Kampung Cengklong. Waktu itu, sudah banyak orang yang datang, jadinya aku agak canggung waktu berjalan melewati orang-orang kenalan papaku itu. Saat sudah sampai di dalam, terlihat sekali, kalau mata mama dan adikku sudah berair-air. Ciciku pun pastinya sama, hanya saja, aku tak bisa melihat mukanya yang sedang terfokus membakar-bakar kertas(tradisi) di dekat tubuh papa kami yang sudah ditutup kain dan ditidurkan di atas tempat tidur yang memang terlihat hanya cukup untuk satu orang saja.

Ya Tuhaaannn..... Papa Anton udah gak bernyawa lagi, Tuhan?!pikirku masih tak percaya, saat aku diajak untuk melihat dan memegang kepala papaku saat itu. Kehangatan sudah benar-benar tak terasa di kulit kepalanya saat aku menyentuhnya. Sungguh dingin, karena mungkin papaku meninggalnya pagi-pagi sekali.

Anehnya sih, aku sama sekali masih tak ingin menangis. Rasa terkejut yang aku rasakan waktu itu sudah membuat diriku menjadi tak terkontrol dengan situasi yang sudah seharusnya aku menangis menggila. Mungkin ini memanglah karena aku adalah seorang laki-laki yang seperti biasanya, yang sudah terbiasa untuk tak mengeluarkan isi hatinya secara blak-blakkan. Dan mungkin ini memanglah suatu hal yang akan terjadi pada siapa saja, yang jarang berkomunikasi dengan seseorang selama hidupnya. Tapi mungkin, aku terlalu me-raja-kan sebuah tangisan kali ya. Karena ia tetaplah ayahku yang kutahu kalau ia sangat mencintai aku dan keluarganya dengan caranya sendiri. Oh, hatiku begitu menjerit menggila saat itu.

***

Sudah dua puluh lima hari aku hidup tanpa papaku. Dan sudah dua puluh lima hari pula, aku merasa kalau kematian papaku ini masih adalah sebuah mimpi yang panjang. Mungkin hal ini bisa terjadi, karena sudah setahun aku itu terbiasa dengan hidup yang jarang bertemu dengannya. Bukan bertemu saja, tapi berbicara pun jarang.

Setahun yang lalu itu, nenekku yang bisa dibilang adalah ibu dari papaku, meninggal dunia diusianya yang sudah tua. Papaku pun akhirnya menjadi tak punya ayah dan ibu lagi sejak saat itu(ayahnya sudah meninggal lebih dahulu, dan aku sendiri belum pernah bertemu dengannya). Lalu, tak disangka kalau papaku telah membuat suatu keputusan yang sebenarnya agak berat untuk diterima oleh aku dan yang lain. Ia memutuskan untuk menetap dahulu selama tiga tahun di rumah semasa kecilnya tersebut. Aku agak lupa karena hal apa, sampai akhirnya ia mau tinggal di sana selama tiga tahun. Kalau tak salah sih karena tradisi gitu. Yang pasti, ia telah memutuskan untuk tidur di sana terus pada malam hari, lalu pada waktu bangun pagi-seperti biasa, ia bekerja: memeriksa kondisi selang-selang yang baru dikirim dari luar kota, dan yang sudah di taruh di rumahnya. Setelah itu menggulung-gulungkannya, dan yang terakhir, pastinya adalah dijual. Tapi tiap siang dan sore, ia selalu pulang ke rumah dan memarkirkan motornya di depan rumah, untuk makan, mandi, ngobrol, dan lain-lain, jadinya aku dan keluarga masih bisa bertemu dengannya.

Aku sungguh sangat menyesal, karena aku belum bisa membahagiakannya dan sudah terbiasa dengan jarang ngobrol dengannya semenjak mamaku meminta aku untuk tak ngobrol dahulu dengannya pada waktu malam hari, karena bisa ribut dan berisik sekali. Hal itu terjadi sebelum papaku memutuskan untuk menginap di rumah semasa kecilnya, dan pada waktu itu, ia memang suka minum bir sehabis kerja, jadinya kalau lagi ngobrol, minta ampun deh berisiknya. Dalam kasus ini, sebenarnya tak ada yang bisa disalahkan. Tapi tetap saja membuat aku menjadi sangat menyesal.... Padahal aku ingin sekali jujur dengannya tentang banyak hal. Apalagi tentang ponsel Sony Ericsson C510 milikku yang tiba-tiba dicopet tiga hari sebelum papaku meninggal. Aku ingin sekali jujur dengannya kalau aku sudah memakai uang ATMku sebanyak sembilan ratus lima puluh ribu rupiah, yang pernah ditransfer sebanyak dua juta rupiah olehnya, untuk membeli hape second baru di hari waktu aku kecopetan, agar tidak ketahuan sama keluarga. Aku sudah kecopetan juga sih sebelumnya.... Huaa....!

***

Disaat sendiri, aku selalu memikirkannya dan kadang aku menangis. Aku selalu mengingat, kalau ia begitu tekun saat bekerja, sampai suka lupa dengan waktu dan keadaan dirinya. Aku juga selalu mengingat, kalau ia sangat ingin sekali memiliki anak laki-laki setelah ciciku lahir, hingga akhirnya lahir lah aku. Senangnya, ia sangat memanjakanku. Ia selalu menuruti banyak kemauanku yang tak diperbolehkan oleh mamaku. Seperti saat aku ingin jajan jajanan berupa: coca-cola, permen, chiki, dan lain-lain, yang enak-enak, sampai akhirnya aku pun sakit gigi karena kegilaanku dengan makanan dan minuman yang manis-manis. Tapi aku tetap merasa nyaman, karena ia tak pernah menyalahkanku, dan malah mengantarkanku dengan motornya saat pergi ke dokter gigi. Ia juga pernah menemaniku, saat aku sedang ingin ditest di salah satu universitas yang sangat ia inginkan-untukku dapat masuk di universitas tersebut. Ia ingin aku masuk Binus, sampai waktu itu, aku ingat sekali kalau ia sampai rela membayar mahal sebuah taksi, karena hujan lebat sedang mengguyur kota Jakarta. Tapi sayangnya, aku malah mengecewakannya dengan mendapatkan nilai D, menjadikan bayaran kuliahnya akan sangat mahal. Walau katanya tak usah kupikirkan tentang masalah biaya yang mahal tersebut, tapi aku sudah memutuskan untuk memilih berkuliah di Universitas Bunda Mulia, karena sudah kudaftarkan diriku di sana duluan dan sudah mendapatkan beasiswa. Maafin anton ya pa....

Bukan hanya aku saja yang saat sedang sendiri-bisa bersedih. Mamaku juga sama. Seperti pada siang dua hari kemarin, disaat aku masih berada di atas kasur dan tak ada lagi orang di dalam rumah karena rutinitasnya masing-masing. Ia pun menangis waktu sedang berbicara tentang papaku lewat telepon. Bisa terhitung berapa kali aku melihat mamaku menangis, jika aku ingat-ingat lagi. Rasanya seperti aku bisa melupakan semua masalahku, hanya untuk fokus terhadapnya.

Sekarang, aku bisa melihat rasa kesepian dari air muka mamaku, dan pastinya juga cici dan adikku. Kehidupan keluarga kami sudah bisa dikatakan berubah drastis. Dan aku sendiri sudah mulai bisa merasakannya sekarang. Ternyata, papaku tak akan pulang lagi. Ia sudah tak memarkirkan motornya di depan rumah lagi....

...Terkenang selalu papa tercintaku... 
Alm. Ong Kim Tjiam


(19-03-1953 --- 15-10-2010)

 God bless my Family

Anton Suryadi

Independent but not a sociopath