Imlek: Reunian Keluarga Besar



Sebelumnya selamat merayakan hari raya Imlek untuk yang ber-etnis Tionghua. Semoga di tahun kelinci ini, kita semua dapat menjadi lebih lihai dan lincah dalam memberantas kejahatan, khususnya perbuatan tercela dari korupsi yang dilakukan oleh para pemerintah yang ada di Indonesia. Agar negara ini tak menjadi sama seperti Negara Mesir yang sudah tak stabil lagi di dalamnya. Sehingga rakyatnya menjadi nekad melakukan kerusuhan untuk melawan para pemerintah mereka.

Gua sangat senang karena Imlek pada tahun ini jatuh di tanggal 3 Febuari. Bukan hanya dikarenakan lebih awal, tapi akhirnya gua bisa mendapatkan angpau lebih cepat cuy! Hahaha.... Gak-gak... mencari angpau mah untuk di usia seperti gua (18th) sih memang biasa, tapi ada satu momen yang gua tunggu-tunggu disaat merayakan Imlek. Apakah itu???? Tentu saja bisa bertemu lagi dengan keluarga besar gua. Dimana semua saudara-saudara gua berkumpul dan berbincang-bincang dengan sukacita. Wow! I like it so much!!

Beruntung sekali karena orang tua gua itu bertempat tinggal di dua tempat yang berbeda (tapi sama-sama di Dadap). Nyokap ada di Kampung Belakang, yang letaknya tak jauh dari Perumahan Villa Taman Bandara. Sedangkan Alm. Bokap ada di Cengklong, yang agak jauh dari tempat gua tinggal ini. Mereka berdua memiliki satu kesamaan. Yaitu mempunyai saudara-saudara yang cukup banyak (tapi tak sampai 10 ya. Kira-kira ada lima atau enam deh). Apalagi sekarang ini saudara-saudara mereka sudah pada menikah dan mempunyai anak, bahkan cucu! Pastinya disaat gua reunian tadi tuh pokoknya ramai banget deh!

Parah juga ya gua pake kata "reuni". Soalnya gua emang jarang bertemu mereka sih. Apalagi semenjak gua lulus SD, jadinya tiap tahun gua bisa bertemu dengan mereka. Padahal sebelumnya sih, gua emang sering ketemu saudara-saudara gua karena tiap minggu enaknya tuh ikut Nyokap atau lebihnya Alm. Bokap ke tempat tinggal awal mereka. Hhh... namanya juga sedang melewati masa orientasi yang jujur, sangat ribet buat gua. Apalagi tuh dulu emangnya gua udah susah berkomunikasi sama saudara-saudara gua, jadinya lebih memilih untuk bergaul aja deh (walau sebenarnya sudah hancur pergaulan gua waktu SMP dulu :'( ).

Tiap tahun memang terasa sekali selalu adanya "perbedaan" tiap merayakan Hari Raya Imlek bareng keluarga besar gua. Dan untuk tahun ini, gua dengan PDnya memakai kemeja berwarna hitam putih garis-garis, yang sudah ditutupi dengan rompi hitam tercinta berkerudung seperti jaket (pertama kali pake rompi nih gua! hehe). Lalu untuk tahun ini juga, memiliki satu perbedaan yang buat gua dan keluarga gua menjadi merasakan dukacita lagi. Yaitu sudah tak ada bisa merayakan Imlek lagi bersama Bokap tercinta. Gua pun diingatkan sama enci dan Nyokap gua, kalau tahun lalu gua belum ucapin "kiong hi" ke Bokap gua. Ya, diam seribu bahasa lah gua jadinya.... Mau gimana lagi, gua emang orangnya sangat pemalu untuk hal-hal seperti itu. Dengan sangat menyesal tapinya sekarang.... :'(

Untuk tahun ini juga, gua cuman bisa melihat Engkong dari Nyokap gua yang masih hidup. Beliau adalah satu-satunya orang yang paling tertua sekarang. Karena Emak dari Nyokap gua dan Bonyok dari Alm. Bokap gua sudah lama meninggal. Dan tadi, Beliau hanya melakukan aktifitas seperti biasanya setiap gua hadir di rumahnya, yaitu duduk terpaku di beranda depan, seperti sedang menantikan seluruh anak cucunya datang. Beliau juga masih mengingat nama gua disaat ia sedang membagikan angpau, walau gua tak pernah ngomong dengannya. Dan tadi juga, Beliau sudah menjadi orang yang paling jarang ngobrol. Tapi, memang hanya perempuan-perempuan yang ada di keluarga Nyokap gua yang mulutnya paling suka mengeluarkan suara. Sedangkan semua laki-lakinya sudah bisa dibilang memiliki temperamen stabil. XD

Ya pokoknya tuh semuanya sudah berubah deh. Saudara-saudara kecil gua yang dulunya tuh lebih pendek dari gua, kini tingginya hampir mau menyaingi gua. Emang dasar dari unsur genetik yang menyebalkan. Lalu, keadaan di sekitar rumah mereka juga sudah sangat berubah. Banyak sekali rumah-rumah baru, bahkan ada pabrik. Padahal dulu itu ada dua lapangan rumput untuk bermain sepak bola dan sering digunakan untuk tempat menonton layar tancep. Tapi sekarang tinggal satu deh, dan satunya itu pun juga sudah seperti rawa (berair dan tumbuh banyak tanaman).

(Gua, Ci Krisna dan Ko Yohan)

(Nata dan Adek Gua, Silvia)

(Nyusul kalau foto gua yang lagi sama keluarga gua karena fotonya disimpan di HP Ci Krisna dan belum terkirim ckck)

Senangnya sih, tahun ini gua bisa foto-foto dengan keluarga gua dan beberapa dari saudara-saudara gua. Bagus deh mereka tadi lagi pada narsis-narsisan. Perkembangan IPTEK yang sudah membuat semua anak kecil menjadi memegang Handphone, telah memberikan pada gua suatu pengalaman menarik hari ini. ^^ Dan salah satu pengalaman yang paling menarik tapi mungkin bisa disebut juga dengan bodoh adalah, gua selalu lupa kebanyakan nama mereka dan cara panggil mereka!! Ada Ocing, Kukuh, Iih, Encek, dan bla bla bla.... Gua emang malas menghapalnya sih ckckck (payah!!).

Oke, tadi itu dari keluarga besar Nyokap gua. Sekarang adalah dari keluarga besar Alm. Bokap gua. Yang jika gua kembali mengingatnya, jadi terasa sedih lagi.

Dengan menggunakan mobil kepunyaan pacar enci gua, kami pun pergi ke Cengklong. Setelah sampai, keheningan terasa sekali karena walau agak ramai, tapi dukacita masih merasuki benak dan batin mereka. Rumah yang biasanya digunakan Alm. Bokap gua untuk mengerjakan pekerjaannya, yaitu mengurusi selang-selang kiriman, kini sudah menjadi rumah kosong yang hanya terisi tempat sembahyang dari Almarhum Kakek dan Nenek gua. Namun rumah tersebut tetap digunakan sebagai rumah untuk kami semua dapat ngumpul bareng.

Setelah Nyokap, Enci, gua, ade, dan Ko Oki (yang tadi menyupiri mobil) selesai sembahyang, air mata kami (kecuali Ko Oki) pun keluar secara tiba-tiba disaat saling mengucapkan "selamat tahun baru" ke ade-ade dari Alm. Bokap gua. Perubahan besar ini memang begitu menyentak hati. Gua sih tadi rasanya pengen keluarin aja semuanya, tapi masih susah deh untuk gua melakukan itu jika di depan mereka (bodoh!).

Disini kami hanya cerita-cerita saja sebentar lalu pulang, karena memang sudah tak tahu harus apa lagi. Kalau masih ada Bokap gua sih, pasti selalu pergi ke rumah-rumah tetangga untuk silaturahmi dan sembahyang abu. Tapi boro-boro bisa ke rumah-rumah, tadi aja kami cuma duduk-duduk dan ngobrol. Ngobrolnya juga masih ada sangkut-pautnya dengan Alm. Bokap gua.... Tapi tadi ada hal yang gua benar-benar lupa!! Yaitu lupa ke kuburan Alm. Bokap gua!!! Padahal tadi udah diajak sama saudara gua.... :'(

Setelah akhirnya pulang, kami ke Bank dulu, lalu kembali ke Kampung Belakang, untuk kembali reunian dan mendapatkan satu angpau lagi dari enci mama gua yang baru saja datang. Habis itu, gua pun memutuskan untuk pulang dengan dianterin sama Ko Oki, sekalian ia mau menaruh kembali mobil pacar Enci gua itu ke rumah gua. Sedangkan Nyokap, enci, dan adek gua masih tetap mau di sana.

Gua pun kembali sendirian di dalam kamar, menghitung uang angpau yang ternyata sangat kurang!! Lalu hendak tidur karena mata sangat ngantuk.

Menurut gua, yang paling penting dan berkesan dari perayaan Imlek atau Tahun Baru Cina ini adalah dapat kembali berkumpulnya gua dengan kedua keluarga besar gua, dan kami semua dapat saling membagikan cerita hidup kami masing-masing. Sehingga dapat membuat gua sendiri selalu bisa bersyukur, karena masih memiliki banyak saudara yang pastinya memiliki rasa ingin saling tolong menolong. Sama seperti waktu saudara gua yang pernah membantu dalam pembiayaan kematian Alm. Bokap gua. Petinya, penggali kuburannya, dan lain-lain. Ini nyata dan dapat gua rasakan di dalam hati. Tali pengikat kami sangatlah erat walau memang gua jarang bertemu dan berbicara dengan mereka. Tapi ini lah namanya keluarga besar.

Terima kasih....
Gbu

Anton Suryadi

Independent but not a sociopath