Tentang Film Minggu Pagi di Victoria Park dan Para TKW

Seharusnya sekarang gua berencana menceritakan tentang kejadian-kejadian yang telah terjadi di hari ulang tahun gua di post ke empat pada bulan Juni ini. Tapi hati gua masih tak menyetujui kalau jari-jari ini harus mengetiknya. Sebab masih ada harapan yang gua nantikan.... Very big hope....

Jam setengah satu pagi ini gua rindu sekali untuk membagikan sebuah kisah dari film yang barusan saja gua tonton. Judulnya adalah "Minggu Pagi di Victoria Park". Sebuah film yang diangkat berdasarkan kisah dari para TKW Indonesia yang ada di Hongkong. Tapi bisa dibilang lebih kepada kisah dua kakak adik yang cukup mengharukan.



Mayang (Lola Amaria), ditugaskan oleh ayahnya untuk mencari adiknya yang selama dua tahun bekerja sebagai TKW di Hongkong karena tak terdengar lagi kabarnya. Ia pun menuruti permintaan ayahnya itu dan akhirnya menjadi TKW juga, sebagai pembantu rumah tangga.

Walau Mayang terlihat takut dan bingung sekali saat sudah bekerja disana karena keterbatasan penguasaan bahasa, dll, tapi keberuntungan ada di pihaknya, sebab banyak orang Indonesia yang juga bekerja disana turut membantunya. Diantaranya ada Gandi, yang dijuluki sebagai bapak TKW di Hongkong, dan masih banyak lagi.

Untuk film ini, para TKW tak terlihat memiliki kehidupan yang sering kita ketahui kalau diantara mereka itu banyak yang disiksa. Malah hidup enak dengan keluarga yang juga menganggap mereka itu sudah menjadi bagian di dalam keluarga. 

Namun yang buat hidup mereka menjadi tak enak itu sendiri adalah karena perbuatan yang telah mereka lakukan. Seperti adiknya Mayang (Titi Sjuman), si Sekar, yang ternyata telah nekat meminjam uang di perusahaan lintah darat hingga hutangnya makin besar sebab memang memiliki bunga yang tinggi. Ia pun nekat menjadi seorang pelacur untuk dapat melunasi hutangnya tersebut.

Mayang yang sebenarnya benci dengan Sekar karena masa lalunya yang suram, tiba-tiba saja bisa berubah karena kehidupan barunya di negara tetangga itu. Disana, selain ia bisa menemukan adiknya, ia juga akhirnya menemukan orang-orang yang mampu memberikannya pola pikir yang baru, sekaligus sebuah cinta....

....

Film yang memiliki judul yang diambil karena kebiasaan para TKW di Hongkong yang selalu berkumpul di Victoria Park setiap hari minggu sebab bebasnya jam kerja mereka ini ternyata sudah menghabiskan waktu selama 2 tahun masa pembuatannya. Lola Amaria yang juga sebagai Sutradara harus bersusah payah untuk mengatur alur, beradaptasi dengan peraturan-peraturan di Hongkong, dan lain-lain.

Dalam penghargaan IMA (Indonesia Movie Awards) 2011, Titi Sjuman pun memenangkan penghargaan sebagai pemeran utama wanita terbaik gara-gara film ini. Selain itu ada juga Fitri Bagus dan Ella Hamid yang berhasil memenangkan penghargaan sebagai pendatang baru wanita terbaik dan terfavorit. Akting mereka di film ini memang sangat lah bagus, khususnya untuk Titi Sjuman sih buat gua.... ^^



Untuk gua sendiri, rasanya setelah menonton film ini, tiba-tiba saja jadi ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada para TKW yang memang sesuai dengan sebutannya, yaitu "Pahlawan Devisa Negara". Dengan hebatnya, mereka rela jauh dari rumah dan keluarga serta orang-orang yang mereka cintai untuk membiayai kehidupan dan membantu pendapatan negara.

Soal menguasai bahasa asing, kita bisa lihat sendiri setelah menonton film ini, kalau orang desa pun mampu mempelajari dan menguasainya dengan cepat walau tak seratus persen juga. Memang, setelah kita hidup di negara tetangga, pasti mudah sekali untuk kita bisa belajar bahasa lain yang mungkin dulunya kita anggap sulit.

Oke... demikianlah post ke empat gua di bulan ini.... ^^

Terima kasih....
Gbu

Anton Suryadi

Independent but not a sociopath