Tentang Film Sucker Punch dan Kekuatan Diri

Tak terasa sudah tanggal 30, yang dimana adalah akhir dari bulan Juni ini. Benar-benar sebuah bulan yang memiliki banyak cerita hebat, tapi karena gua malas-jadinya terbengkalai semuanya, atau tak jadi gua musiumkan di blog tercinta ini. Namun, untuk hari terakhir pada pukul sebelas malam ini, gua akan mempublikasikan beberapa post.

Untuk post yang pertama, gua ingin memberikan sedikit resensi dari sebuah film.

Beberapa minggu ini bisa dibilang gua telah gila-gilaan dalam hal membeli kaset DVD. Kira-kira ada 15 kaset, dan semuanya sudah gua tonton habis. Senangnya, gua pun akhirnya menonton film "The Notebook" yang selama ini gua benar-benar ngidam sekali untuk bisa mengetahui isi dari film tersebut.

Tapi gua tak akan meresensi film "The Notebook" dulu, soalnya dari tadi di dalam benak ini selalu muncul satu film yang juga adalah film pertama yang gua tonton di bulan Juni ini. Judulnya adalah "Sucker Punch". Satu lagi sebuah film yang bisa merubah pola pikir gua....



Awalnya gua kira film ini adalah sebuah film yang keseluruhannya memiliki genre fantasy sebab trailernya seperti memperlihatkan demikian. Namun ternyata, film ini mengisahkan tentang kehidupan seorang perempuan muda, berumur 20 tahun, yang tiba-tiba harus masuk ke dalam rumah sakit jiwa karena dituduh sembarangan oleh pamannya yang ingin menguasai kekayaan dari keluarga perempuan tersebut.

Ia pun sadar kalau ia tak akan bisa keluar dari dalam rumah sakit jiwa itu untuk selamanya. Ia bahkan diminta untuk menjadi bagian dalam pertunjukan teater yang para pemainnya adalah perempuan suruhan yang dipaksa, sama seperti dirinya.

Namun, di salah satu adegan, yang dimana ia diminta untuk menari di depan banyak orang, di dalam ruang latihan, tiba-tiba saja layar kaca berubah menjadi masuk ke dalam ruang imajinasi perempuan tersebut. Latarnya, ia sedang berada di halaman sebuah rumah, yang letaknya berada di sekitar pegunungan Jepang dan bersalju. Ia pun bertemu dengan seorang laki-laki tua yang berperan menjadi pemandunya untuk memberitahukan bagaimana cara keluar dan bebas dari rumah sakit jiwa tersebut. Tak lupa dengan tantangan pertama, yaitu harus bertarung dengan 3 pembunuh raksasa yang ganas-ganas.

Intinya, ketika ia sedang menari, ia sedang berimajinasi juga. Seterusnya pun seperti itu, setiap ia sedang menari, penonton harus melihat imajinasinya yang penuh dengan action.



Oh ya lupa, nama perempuan ini adalah Baby Doll (Emily Browning). Ia juga bekerjasama dengan Sweet Pea (Abbie Cornish), Rocket (Jena Malone), Blondie (Vanessa Hudgens), dan Amber (Jamie Chung). Benar-benar nama yang seperti diambil dari komik atau apalah... hahaha....

....

Kalau boleh gua bilang, film ini sungguh keren. Apalagi dengan menampilkan aktris-aktris muda yang cantik dengan beradegan harus menjadi tentara seksi. Gua juga terkesan sekali dengan penampilan dari Vanessa Hudgens yang keren di film ini. Padahal kan sebelumnya gua kira, ia memang sepertinya lebih cocok untuk film-film musikal like "High School Musical"-sebab suaranya sangatlah bagus.

Tapi tetaplah hanya satu perempuan yang paling mempesona gua di film ini. Dia ini pernah main dalam film "Bright Star", dan ternyata gua jadi sangat nge-fans habis sama dia setelah melihat penampilannya. Ia adalah Abbie Cornish, si Sweet Pea. :)




Terus, yang tambah keren juga, film ini memiliki soundtrack-soundtrack yang cocok untuk adegan-adegan pertempuran dan juga bisa untuk menenangkan jiwa yang sedang gundah-gulana walah hanya sementara. Salah satunya adalah lagu "Sweet Dream", yang munculnya di awal cerita, dan ternyata penyanyinya adalah Emily Browning, si Baby Doll. Waduh, benar-benar mantep dah lagunya! Si Emily juga sungguh multi talent!

Terakhir, dari film ini gua belajar satu hal yang ngena banget di benak dan batin gua. Yaitu, yang terkuatlah yang sanggup untuk merasakan kebebasan dan mendapatkan jalan keluar. Jadi, tak usah menjadi orang yang lemah dan selalu jatuh oleh karena beberapa hal yang menyakitkan, sebab semua itu boleh ada untuk mengasah pedang samurai kita agar menjadi lebih tajam. 

^^
Terima kasih....
Gbu

Anton Suryadi

Independent but not a sociopath