Tentang Film "Spiderman: Homecoming"

Manusia laba-laba kembali beraksi, dengan reboot-nya yang sudah sampai di kali ketiga. Dimulai dari pemainnya, umurnya, kekasihnya, dan tentu saja keseluruhan ceritanya. Sebagai sutradara, Jon Watts terlihat sekali ingin mengubah semua hal yang selalu ada di benak kita mengenai Spiderman.


Hello Tom Holland, sebagai Peter Parker yang masih duduk di bangku SMA. Meski sebelumnya pernah muncul di Captain America: Civil War, namun kisahnya kali ini ternyata sangat menyedihkan. Dikarenakan Spiderman sudah masuk ke dalam Marvel Universe, mau tak mau peranan superhero memang sudah eksis sewaktu tim Avenger menampakkan diri. Semua orang sudah melihat kehebatan para superhero sebelum Spiderman muncul. Kita juga akan merasakan kalau Spiderman memang yang paling lemah dari mereka semua. Dan tentu saja yang paling muda.

Tanpa baju zirah buatan Ironman, Spiderman mungkin hanya bisa loncat tinggi, nempel di tembok, dan tahan banting. Semua orang mungkin sudah bosan dengan kekuatan Spiderman yang itu itu saja. Nah, ternyata baju zirah / kostum (sama aja) pemberian Ironman ini memiliki banyak fungsi nan fantastis. Sesuai dengan komik dan game-nya, kita akan melihat lebih banyak kemampuan sang Spiderman, khususnya pada jaring laba-labanya. 

Meski begitu, Spiderman tetap dilihat sebagai sosok yang lemah dan superhero yang biasa saja. Peter yang masih pubertas ini memiliki keinginan yang tinggi untuk ikut serta ke dalam tim Avenger. Ia pun ditugaskan oleh Tony Stark untuk menolong rakyat kecil di kotanya terlebih dahulu. Oleh karena itu, ia lebih fokus untuk kejadian setelah pulang sekolah, bukan pada saat sekolah, padahal ia adalah siswa yang berprestasi.

Dilema hidup banyak terjadi di film ini. Cerita Peter saat galau akan jati dirinya sangat ditonjolkan disini. Banyak kejadian buruk yang menimpa Peter pun terjadi disebabkan oleh dirinya sendiri.

Lantas bagaimana dengan kekasih hidupnya atau cinta monyetnya? Kali ini kita akan bertemu dengan Liz (Laura Harrier), seorang siswi cantik dan pintar serta populer di sekolah. Ia adalah Kakak kelas Peter, dan memiliki peran yang penting dalam proses pendewasaan Peter.



Lupakan untuk kisah Peter saat digigit laba laba ajaib itu, serta saat kematian sang paman, dan kata kata mutiara sejuta umat itu (kekuatan besar mendatangkan bla bla bla). Semuanya dihapus disini. Dan untuk menggaet pasar milenial, semua yang kekinian dimunculkan, seperti Vlog, gadget, drone, dll. 

Perasaan kita akan digodok bukan main pada waktu menonton Spiderman yang sekarang. Meskipun sangat humoris, atau kalau boleh saya bilang lebih ngakak ketimbang yang terdahulu, tapi lewat tingkah bodoh dan tak dewasanya Peter, yang bahkan ingin putus sekolah, membuat kita jadi kesal sendiri. Namun memang ini lah salah satu fase yang harus dilewati oleh para remaja. Realita. Yup, itu fokus utamanya.

Oh iya, saking terlalu fokus pada kedalaman cerita dari sang tokoh utama, jadi lupa dengan sang villain, yaitu Vulture, yang bisa disebut komedi juga karena diperankan oleh Michael Keaton. Untuk yang sudah menonton Batman Returns dan Birdman, hal ini adalah sebuah joke! Akhirnya Michael benar benar bisa terbang!!



Yup, mungkin beberapa orang yang sudah mengenal Spiderman sejak kecil, sejak Tobey Maguire muncul, kurang puas dengan kisah Spiderman yang sekarang. Semuanya tak natural, dan banyak sekali teknologinya. Spiderman seperti terlihat sebagai Iron Man yang kedua, namun lebih kecil saja. Tapi untuk sekedar hiburan, film ini sudah sangat pas! Mungkin kekuatan Peter Parker yang besar akan lebih ditonjolkan saat The Avenger: Infinity War. Mari kita tunggu... :)

Anton Suryadi

Independent but not a sociopath