Tentang Film "War for the Planet of the Apes"


Berawal dari keinginan manusia untuk membuat obat bagi penderita Alzheimer, hingga akhirnya berujung pada kemunculan para kera pintar dan virus mematikan bernama Simian Flu. Kehidupan umat manusia berangsur angsur mulai punah. Virus tersebut terus membunuh dan menular meski segala upaya telah dilakukan oleh umat manusia, seperti membunuh para kera pintar tersebut.

Adalah Caesar (Andy Serkis) yang menjadi pemimpin utama dari para kera pintar. Sulit untuk melupakan kata manusia pertamanya yang terucap dengan lantang hingga ia menjadi sangat dihormati. Umat manusia masih berusaha untuk memusnahkan Caesar dan kawan kawannya. Banyak pengkhianat yang muncul, seperti Koba di serial yang sebelumnya. Namun kali ini, Caesar berhasil mendapatkan lokasi persembunyian yang baru, yang berdasarkan keyakinannya dapat membawa kedamaian bagi spesiesnya.

Tapi tentu saja tidak mudah. Para tentara baru kembali muncul dan siap untuk berperang dengannya. Caesar yang sebelumnya bijak, kemudian menjadi dengki dan penuh dendam ketika manusia berhasil membunuh anggota keluarganya. Rencana awal yang seharusnya membuat para kera tersebut pindah ke lokasi yang baru, berubah menjadi rencana balas dendam.

Di tengah perjalanan, Caesar yang ditemani sahabat setianya, Maurice (Karin Konoval), Rocket (Terry Notary), dan Luca (Michael Adamthwaite), bertemu dengan beberapa anggota keluarga baru. Nova (Armiah Miller), anak perempuan bisu yang ternyata disebabkan oleh mutasi dari virus simian. Umat manusia tak lagi mati, melainkan menjadi primitif kembali. Kemudian bertemu dengan kera tua penuh jenaka, Bad Ape (Steve Zahn). Bersama sama, mereka berjuang di sebuah perang yang seharusnya menjadi perang terakhir mereka, dan membuat bumi seluruhnya dimiliki oleh kera, bukan manusia lagi.




Dengan judul yang sangat matang, yaitu mengenai 'perang', sangat disayangkan ternyata sekuel yang terakhir ini tidak memunculkan sebuah akhir yang berisi sebuah perang maha dasyat antara manusia dengan kera. Pendalaman karakter adalah fokus utama disini. Bahkan hingga sang villain, The Colonel (Woody Harrelson) tetap dibuatkan latar belakangnya yang pada akhirnya kita mampu merasa kasihan dengannya.

Kemudian kita akan banyak melihat sebuah parade kecerdasan dari para kera tersebut. Yup, mereka semua berperang dengan cerdas, ketimbang umat manusia yang nyatanya semakin lama semakin bodoh dan primitif, sehingga memang layak untuk dimusnahkan. Sedangkan para kera ini, semuanya memiliki perasaan yang mendalam. Mungkin karena tokoh utamanya adalah para kera CGI, jadinya semaksimal mungkin sang sutradara, Matt Reeves, menginginkan mereka semua terlihat bernyawa.

 

Namun secara keseluruhan, film yang direboot dan diadaptasi dari novel terkenal karya Pierre Boulle ini tetap enak untuk dinikmati. Bagi penonton yang sudah mengenal Caesar sejak ia kecil hingga dewasa, rasanya akan kurang jikalau tak melihat aksinya kali ini. Rasa sedih pun akan muncul diujung perjuangannya.

Anton Suryadi

Independent but not a sociopath