Bukan Rumah Kedua

Sudah terlambat. Seekor keledai kembali jatuh ke lubang yang sama. Hati ini kembali jatuh ke dosa yang sama.

Entah, apakah hidup saya memang sudah ditakdirkan seperti ini. Sudah banyak cerita yang bisa saya rapatkan di dalam satu buku dan siap untuk dibakar. Diinjak injak, karena benci. Di dalamnya bukan sebuah kisah cinta nan dongeng dahulu kala, tapi hanya seonggok realita yang sudah berbau busuk. Walau saya yakin, tiap orang pasti mengalaminya.

Untungnya, kejadian ini berlalu dengan cepat ketika sahabat saya sudah memberitahukan kebenaran. Sakit diawal, namun mampu membebaskan. Sedihnya, saya harus pergi dari daerah tersebut sebagai jalan keluarnya. Tak disangka, saya harus melakukan ini untuk kedua kalinya. 

Kabur dari kenyataan.

Kalimat yang pas untuk diolok olok bukan? Rencananya saya akan pergi ketika waktunya sudah cukup. Karena kepergian ini membutuhkan paspor yang mahal. Sory, tenaga yang besar maksudnya. Tak mudah untuk berpisah dari orang orang yang sudah dekat dengan kita, apalagi di tempat yang sudah menjadi rumah kedua kita tersebut.

Namun ketika rumah sudah menjadi racun dalam hidup kita, alangkah baiknya untuk menjauh. Karena saya tau rasanya, ketika hati ini sedang diusahakan agar tetap kuat untuk menghadapi realita. Hati ini sudah tak sekuat dulu lagi, yang bisa survive bertahun tahun lamanya. Jika sudah ada sinyal, lebih baik cepat pergi. 

Jangan melihat ke belakang lagi.

Anton Suryadi

Independent but not a sociopath