Menuju Arah Maksimal



Terbangun di malam hari, dan menuangkan isi pikiran dari sang introvert. Sungguh buat penyakit! Entah mengapa kekuatan berpikir saya selalu muncul ketika di jam semua orang sedang terlelap. Apakah ini mimpi yang tertukar? Sebuah mimpi yang divisualisasikan dalam bentuk huruf dan angka. Karena realita saya masih sebatas kata-kata.

Terlalu basa-basi, merupakan keunggulan saya untuk meraih mimpi. Memaksimalkan hidup menjadi sebatas angan-angan kala pikiran sedang berimaji. Sebentar lagi memasuki 2018, dan saya merasa kalau hidup ini masih tak maksimal.

Tentu saja hal ini disebabkan oleh lingkungan. Pandangan mata saya selalu melihat ke atas. Merasa iri dan dengki, sudah menjadi makanan sehari-hari. 

Mengapa mereka bisa berlari dengan cepat? 

Jiwa kompetitif memang saya pertahankan untuk tetap hidup hingga saat ini. Namun fokusnya, itu yang bermasalah. Apa passion saya? Saya pun menemukan kalau saya akan bertindak secara general mulai saat ini. Seperti melihat Owner besar yang harus mengetahui semua organ dalam berbisnis, saya pun akan mencoba itu. Bukan seorang specialist.

Tapi (lagi). Saya bukan lah seorang generalisme yang sepadan dengan orang-orang di atas sana. Mereka melakukan segala sesuatunya dengan maksimal. Itu yang saya tahu. Saat mereka terjun ke dalam agen kreatif, mereka bisa menggunakan adobe seperti photoshop, illustrator, dan premiere dengan maksimal. Hasilnya juga tak kalah.

Saat ini saya sedang terjun ke dalam pekerjaan kreatif dan publishing secara digital (kurang lebih seperti itu). Dan ketika beberapa orang bertanya secara detail mengenai pekerjaan saya, yah, dua setengah tahun ini saya merasa belum cukup untuk mempelajari beberapa konten untuk menunjang jabatan saya.

Saya selalu melihat bagian terburuk hingga melupakan 'the best part of me'. Saya tak tahu apa yang sebenarnya dilihat orang lain tentang saya. Apakah mata mereka melihat ke bawah atau ke atas mengenai saya? Saya sangat bersyukur ketika mereka melihat saya sudah di atas dari beberapa orang yang mereka kenal.

Segala aspek memang dibutuhkan untuk melihat. Bukan sekadar pencitraan di sosial media. Tapi sebuah ketulusan dalam berkomunikasi. Realita sebagai manusia yang ditunjukkan ke manusia lainnya. Manusia masih membutuhkan itu. 

Mereka membutuhkan sesuatu yang nyata. Saya juga demikian.

Memaksimalkan hidup masih menjadi isu utama saya, bahkan merupakan isu tahun ini, yang harus saya improve di tahun depan, atau mulai sekarang saja deh. Terlalu lama untuk membicarakan tahun depan.

Masih banyak PR saya. Orang-orang di atas sana masih berlari kencang, mempelajari hal yang baru. Saya juga harus sama. Setidaknya jalan yang saya tempuh ini bisa memberikan arti pada hidup saya yang masih biasa-biasa ini.

Anton Suryadi

Independent but not a sociopath