Serial TV: The Handmaid's Tale (Season 1)

Bumi akan selalu tertimpa bencana, suka ataupun tidak. Kehidupan umat manusia akan selalu terancam selama kita masih hidup. Ancaman perang dunia ke-3 antara Amerika Serikat dengan Korea Utara adalah yang ter-update. Kemudian tak lupa dengan bencana-bencana lainnya yang sudah bahkan masih terjadi, seperti pemanasan global, hacker, dan fanatisme pada agama.

Banyak sekali cara agar kehidupan umat manusia punah. Margaret Atwood tahu itu. Sejak 1985, Beliau sudah membuat novel yang berhasil memenangkan 3 penghargaan di era tersebut (Arthur C. Clarke Award, Governor Genera's Award, dan finalis dari Booker Prize).

The Handmaid's Tale, membuat Bruce Miller selaku produser dan writer menjadi tertarik untuk mengangkat kisahnya menjadi serial TV. Dan HULU, TV Streaming saingan NETFLIX pun mengambil alih kisah ini.


Bukan perang nuklir ataupun pemanasan global yang menjadi isu utama disini. Melainkan 'kesuburan'. Distopia masa depan telah menunjukkan bahwa tingkat kemandulan umat manusia berada di level yang membahayakan. Baik itu pria maupun wanita, tak sanggup memiliki anak. Hanya sebagian kecil saja yang masih subur. Akhirnya pemerintah orde baru memutuskan untuk membelot dan menciptakan sebuah peraturan baru. Hingga USA berubah nama menjadi Gilead.

Acuan utama Gilead adalah Alkitab Perjanjian Lama. Mereka benar-benar mengikuti isi dari Alkitab tanpa melakukan intepretasi lagi. Contohnya seperti hukuman rajam dan mengambil mata, semuanya diberlakukan disini. Tujuannya adalah untuk mendisiplinkan masyarakat agar tak melakukan dosa. Mereka menganggap masalah kesuburan ini adalah hukuman dari Tuhan.

Mereka pun menyalahkan kaum Hawa atas masalah ini. Oleh karena kesetaraan gender, mereka berpendapat kalau para wanita jadi tidak fokus dengan tujuan awal mereka hidup, yaitu mengandung. Hingga akhirnya para wanita tak diijinkan untuk bekerja lagi.

Mereka juga menciptakan pasukan 'Handmaid'. Para wanita yang masih subur, dan siap untuk dibuahi oleh pasangan suami istri yang memegang peran superior di kala itu. Semua handmaid akan berpakaian serba merah dan tertutup yang mana sebagai simbol kehadiran mereka.





June Osborne (Elisabeth Moss) adalah salah satunya. Setelah anak dan suaminya menghilang saat mereka kabur dari kejaran tentara yang ingin menangkap mereka, June pun diubah statusnya secara paksa. Ia harus melayani keluarga Waterford yang sedang mendambakan kehadiran bayi.

June bukan lah wanita yang lemah. Ia harus bertahan hidup plus memiliki niat untuk menghancurkan struktur pemerintahan tersebut. Tentu saja bersama dengan teman-teman Handmaid-nya yang secara diam-diam sedang melaksanakan 'Mayday' / Hari Perlawanan.




Pada season pertama, kita akan banyak melihat penderitaan disini. June tampil dengan pengorbanan yang sangat parah, dan Elisabeth Moss, jebolan Serial TV Mad Men ini tampil dengan sangat meyakinkan. Selain perlakuan Aunt Lidya (Ann Dowd) yang selalu menyengat Handmaid-nya dengan listrik ketika mereka tak taat peraturan, perlakuan keluarga Waterford juga tak kalah tajam. Serena (Yvonne Strahovski), istri dari sang Commander (sebutan dari para suami), Fred Waterford (Joseph Fiennes), adalah villain utama disini. Selain menyiksa June (di keluarga ini ia dipanggil Offred), ia juga salah satu yang mengagas pembuatan sistem dari Negara Gilead ini, meskipun ia sendiri adalah perempuan.



Ada 10 episode yang mengawali kisah hidup dari para Handmaid ini. Kita akan dibawa untuk mengerti betul tiap peraturan dari dunia distopia karya Margaret Atwood. Hingga muncullah pro dan kontra, mengenai - apakah sistem tersebut memang cocok untuk mengatasi bencana akhir jaman? Apakah sifat kemanusiaan harus benar-benar kita lupakan? Dan apakah pengorbanan para Handmaid ini sepadan dengan keadaan tersebut?

Under His Eye!

Anton Suryadi

Independent but not a sociopath