Serial TV: Mindhunter

Nama David Fincher jelas merupakan magnet utama pada serial TV baru yang tayang di Netflix tahun ini. Dengan hobi yang gemar mengangkat tema kriminal di film seperti "Se7en", "Gone Girl", dan "Zodiac", Fincher kembali menaruhkan aspirasinya pada buku Mindhunter: Inside the FBI's Elite Serial Crime Unit karya John E. Douglas dan Mark Olshaker. Buku ini pun ditulis kembali oleh Joe Penhall yang akhirnya menjadi serial TV berjudul "Mindhunter".


Berkisah tentang seorang agen FBI di unit Behavioral Science, Holden Ford (Jonathan Groff), yang merupakan agen muda yang memiliki ambisi kuat untuk mengerti pemikiran dari para kriminal. Berdasarkan keinginannya tersebut, sebuah riset besar berhasil Ford peroleh, dengan bantuan rekan kerjanya, Bill Tench (Holt McCallany) dan Wendy Carr (Anna Torv). Riset ini berfokus untuk mempelajari tingkah laku dan karakter dari para kriminal dengan mewawancarai sang 'Serial Killer'. Ya, psikopat bercampur necrophilia seperti Edmund Kemper (Cameron Britton), hingga Richard Speck (Jack Erdie) yang sudah membunuh puluhan orang secara sadis ini adalah subyek andalan Ford dan rekan kerjanya.

Selain mempelajari para pembunuh berantai tersebut, Ford juga harus menghadapi kasus asli di beberapa negara yang ia datangi (demi menemui subyek wawancaranya, Ford harus berkali-kali pindah negara). Pada episode awal, kita akan dibuat kecewa dengan penolakan dari Ford akan kasus sadis yang belum terpecahkan. Namun seiring berjalannya waktu, kita akan melihat perkembangan karakter yang signifikan dari cara Ford menghadapi para kriminal.



Ada teori dan praktek yang diaplikasikan di film ini. Kita akan melihat metode ilmiah dalam bentuk audio visual yang terorganisir. Ilmu kualitatif dan kuantitatif akan menjadi perdebatan menarik di film ini. Cara Ford dalam menghadapi kriminal jelas berbeda dan kontradiktif dibandingkan dengan cara rekan kerjanya. Meski berhasil, tapi di era tersebut (70-an) nyatanya masih belum bisa menerima apa yang dilakukan oleh Ford yang sedikit 'kotor' dan 'kasar' ini.

Ford juga dibantu sang kekasih, Deborah Mitford (Hannah Gross), yang merupakan mahasiswi post graduate dengan fokus sosiologi. Mitford merupakan teman diskusi Ford secara tidak langsung, karena pemikiran mereka yang kurang lebih sama dalam menilai sesuatu. Hampir semua kasus kriminal yang Ford kerjakan, ia beritahukan ke kekasihnya tersebut.

Namun, dalam mencapai goal, pasti ada yang harus dikorbankan. Waktu mendekati episode akhir, Ford akan mencapai kemenangan dan juga kemalangan. Pekerjaannya ini jelas tak ramah dengan kehidupan normal, karena Ford akan selalu menemui subyek yang jelas sudah mengambil nyawa banyak manusia.




Dalam kasus untuk menikmati film ini, kita pun harus menyukai sebuah disertasi. Karena akan kita temui banyak kosakata ilmiah, yang bisa kita lihat artinya pada ilmu Psikologi dan Sosiologi. Tapi tentu saja hal tersebut tak meninggalkan bumbu misteri dan menegangkannya. Seperti halnya film Sherlock Holmes, kita pasti ingin melihat semua kasus terpecahkan. Bedanya, cara Ford untuk mencari sang pelaku terlihat lebih realistis ketimbang detektif Holmes yang memiliki pemikiran super tersebut.

Peran David Fincher sendiri adalah menjadi executive produser yang mana ditemani oleh Charlize Theron juga loh (wow!), serta menjadi sutradara di beberapa episode. Mungkin Zodiac dapat disamakan dengan film ini lewat sentuhan kritis Fincher terhadap dunia kriminal. Terlihat jelas, Fincher sangat menghargai kepolisian, apalagi saat menghadapi kasus yang besar, hal tersebut merupakan tantangan antara hidup dan mati.


Kisah Holden Ford ini sebenarnya merupakan proyeksi nyata yang dieksploitasi dari sang penulis buku, John E. Douglas. Sama seperti di film, Douglas pun sudah traveling ke berbagai negara untuk bertemu dengan para pembunuh berantai. Untuk season ke-2 sendiri, kita akan bertemu dengan Charles Manson, sang pemimpin kelompok pembunuhan sadis "The Family".

Anton Suryadi

Independent but not a sociopath