Tentang Film Coco

Sepertinya film animasi di tahun ini lebih sedikit kuotanya ketimbang tahun-tahun sebelumnya. Kualitasnya sendiri belum ada yang sampai kuat dan kena di hati. Hingga akhirnya sampai di penutup Halloween. Lee Unkrich, pria yang sudah membawa air mata di Toy Story 3 kembali mempersembahkan film animasi yang berbeda di tahun ini.


Coco, mengangkat budaya Meksiko di hari raya Dia de Muertos (Day of the Dead), hari dimana setiap keluarga mendoakan para leluhur mereka yang sudah meninggal sambil memberikan makanan di Ofrenda (altar yang berisi foto dan makanan). Mereka juga percaya kalau leluhur mereka yang sudah meninggal akan hadir menemui mereka. 

Disini kita akan melihat keluarga Rivera, dimulai dari sang Nenek Buyut, Mama Imelda (Alanna Ubach), seorang single parent yang harus berusaha sendiri menghidupkan anak semata wayangnya, Coco, ketika sang suami meninggalkan dirinya oleh karena keinginannya untuk bermusik. Mama Imelda pun jadi sangat membenci musik dan memutuskan untuk menjadi shoemaker, yang ternyata sangat laku di pasaran. Anak dan cucunya terus mengikuti jejak Mama Imelda serta ikut percaya kalau musik adalah pembawa sial untuk keluarga mereka.

Sampai akhirnya muncul Miguel (Anthony Gonzalez), cicit laki-lakinya yang keras kepala. Ia memiliki hobi yang sudah jelas sangat dibenci oleh keluarganya. Namun ia terus lakukan dan berniat untuk mengikuti lomba musik di hari Dia de Muertos. Ia juga percaya kalau Ernesto de la Cruz (Benjamin Bratt), sang musisi dan aktor terkenal di masa lalu adalah kakek buyutnya.

Sayangnya, saat ia ingin mengambil gitar sang legendaris di tempat bersemayamnya yang besar, ia malah masuk ke dunia orang mati. Ia bertemu dengan orang-orang yang sudah menjadi tengkorak, yang sedang menuju ke keluarga mereka yang masih hidup saat itu.

Dalam usahanya mencari jalan keluar dari dunia orang mati, Miguel bertemu dengan Hector (Gael Garcia Bernal), pemulung yang sangat ingin masuk ke dunia orang hidup, namun tak bisa karena fotonya tak ada di Ofrenda. Ia adalah orang yang terlupakan. Dan ia ingin memanfaatkan Miguel untuk meraih hal tersebut.

Selain itu, Miguel juga bertemu dengan sang Nenek Buyut, Mama Imelda, plus anak-anaknya, seperti si kembar Oscar dan Felipe (Herbert Siguenza), dll. Keluarganya tersebut ingin membawa Miguel kembali ke dunia orang hidup, yang mana ditolak oleh Miguel karena ia harus menaati peraturan: tak boleh bermusik lagi. Akhirnya Miguel meminta Hector untuk mengantarnya ke Ernesto de la Cruz agar ia bisa dibalikkan ke dunia aslinya namun tetap bisa bermusik.





Musik ala Meksiko, budaya ala Meksiko, dan pengisi suara orang Meksiko. Jarang sekali kita lihat budaya ini berkumandang di rancah film animasi. Meskipun sebenarnya konsep film ini sudah ada yang memakainya terlebih dahulu, di The Book of Life (2014). Film animasi pula. Hanya saja sudah pasti beda untuk film dengan budget 200 juta dollar dibanding 50 juta dollar. Coco tampil begitu ciamik!

Meskipun saya tak terlalu tertarik dengan budaya orang Meksiko ini, apalagi lagu-lagunya tersebut. Namun, sentuhan Unkirch masih terasa di film ini. Berkisah tentang keluarga, dan berakhir dengan air mata. Sungguh sebuah film yang memiliki nilai yang kuat. 


Perfecto untuk Mr. Unkrich!

Anton Suryadi

Independent but not a sociopath