Tentang Film Mother!

Darren Aronofsky is back! Sutradara spesialis horror psikologis ini kembali membuat versi lain dari 'Black Swan' tercintanya. Jikalau dulu ia memakai Natalie Portman yang langsung berhasil mendapatkan piala OSCAR berkat film arahannya tersebut, kali ini kita akan bertemu dengan sang American Sweetheart, J-Law aka Jennifer Lawrence yang sudah dieksploitasi habis-habisan oleh sang sutradara.


Mother! merupakan alegori tentang kehidupan Bumi yang begitu kacau. Mother! pun mengawali jalan cerita dengan mengambil kisah dari 'manusia pertama' menurut kitab suci, yakni Adam (Ed Harris) dan Eve (Michelle Pfeiffer), serta anak-anaknya: Kain (Domhnall Gleeson) dan Habel (Brian Gleeson). Sebagai Mother Earth (Jennifer Lawrence) ia tak suka jikalau rumahnya diganggu oleh para manusia. Tapi suaminya, Him (Javier Bardem berperan umpama Tuhan) berpikiran beda, ia sangat cinta dengan kehadiran orang lain, yang katanya dapat memberikan inspirasi untuk diri-Nya tersebut.

Sebagai film yang memiliki makna multi tafsir, kita harus mengetahui arti originalnya terlebih dahulu atau kita akan tersesat oleh alur ceritanya. Namun secara simple, kita akan cukup menikmati kekacauan yang terjadi pada film ini. Mungkin pada awalnya hanya ada beberapa orang yang menganggu mother. Tapi tak disangka, mendekati akhir cerita, Mother! menjadi tontonan yang totally CHAOS!!


Dengan talenta J-Law yang selalu di shoot close up, kita akan turut merasakan sakit dan betapa pedihnya sang mother saat rumahnya diobrak-abrik. Di waktu yang sama pula, mother sangat mencintai Him dan terus bertahan oleh karena-Nya. Apalagi pada waktu mother kedapatan mengandung dan Him berhasil membuat 'kitab suci' baru yang kembali sukses di pasaran. Semua menjadi bahagia lagi, meski hanya sebentar.

Yup, balik lagi dengan alegori dari kitab suci. Sang Anak telah lahir, namun harus dikorbankan oleh karena dosa manusia. Itu merupakan momen paling menyakitkan bagi mother. Hal ini jelas menggambarkan betapa memalukannya umat manusia yang sudah semena-mena terhadap tempat tinggalnya sampai saat ini.

Peran agama lagi-lagi digambarkan sebagai alat yang disalah gunakan. Banyak manusia menjadi fanatik dan lupa dengan esensi utama terciptanya sebuah agama. Bahkan sampai lupa dengan alam, itu point utama dari film ini.



Oleh karena Mother! cukup sensitif untuk ditonton semua orang, jadinya penonton Indonesia tak bisa menikmatinya dalam versi layar lebar. Hal ini juga membuat J-Law terlihat vakum di tahun 2017 karena tak bermain di film lainnya. Padahal penampilannya di Mother! sudah sangat maksimal, tapi sayang, hanya bisa dilihat secara online saja.

Walaupun kurang diapresiasi, tapi Mother! tetap merupakan karya besar dari Darren Aronofsky yang sudah lama ditunggu-tunggu setelah Pi, Requiem for a Dream, The Wrestler, dan Black Swan. Lucunya, film ini masih sanggup kita nikmati meski tak ada scoring di dalamnya. Jadi benar-benar fokus terhadap dialog dan rasa sakit dari sang mother.

Anton Suryadi

Independent but not a sociopath