Clean Up Your Own Mess

Sejak kecil saya selalu berulah, seperti merusak barang, memecahkan gelas, dan hal-hal buruk lainnya pada saat sedang emosi maupun tidak. Momen yang selalu saya ingat adalah saat sedang bertengkar dengan Mama saya, saya pernah menjatuhkan makanan saya ke lantai, dan melempar baju-baju saya di ruang tamu. Dan saya ingat, kalau tak pernah sekali pun ada satu orang yang mau membereskan hasil dari amarah saya tersebut. Saya terus menunggu berjam-jam sambil menangis, tapi saya dibiarkan. Tak seperti di film drama keluarga yang penuh praktek cinta kasih seperti memeluk atau memberikan kata-kata bijak. Disaat saya emosi, Mama saya hanya bilang, "emang gua alemin lu!"

Apakah itu jahat?

Tentu saja tidak. Setiap keluarga punya caranya masing-masing untuk tetap bertahan hidup. Berjalan sesuai kapasitas, apa salahnya. Perlakuan Mama saya tersebut pun akhirnya membuat saya jadi terbiasa. Karena setelah emosi saya mulai mereda, saya pun membereskan semuanya lagi. Baju-bajunya saya ambil, makanan yang jatuh juga saya beresi. Ya, saya yang berbuat, saya juga yang harus bertanggung jawab.

Membereskan masalah yang saya buat sendiri.

Tahun 2017 selalu saya sebut sebagai tahun untuk produktif. Walaupun berakhir buruk. Ide untuk membuka usaha muncul, tapi tidak melaksanakannya dengan maksimal. Jika kalian cek beberapa goal saya di tahun 2017 yang sudah saya catat di blog saya ini, pasti kalian akan tercengang kalau banyak yang cuma jadi angin lalu. Nah, 2018 akhirnya muncul, dan saya sebut sebagai tahun untuk membereskan masalah tersebut. Sepertinya saya memang lihai dalam hal ini, berkat Mama saya.

Saya jadi ingat pada waktu saya mulai mencari kerja dan sudah mendapatkannya. Banyak kesalahan yang saya buat, dan saya sebisa mungkin segera membereskannya. Saya pernah merasakan 'dipecat' (sebenarnya tak diperpanjang kontrak kerjanya. Cuma lebih gampang menyebut dipecat), awalnya saya sangat kacau balau. Membayangkan nasib bulan depan saya yang tak digaji, dan perasaan ditolak habis-habisan oleh perusahaan saya. Emosi saya mulai bermain, dan saya pusing seharian. Tapi setelah emosi selesai, saya mulai bangkit. Jobstreet saya buka, dan saya kembali melamar ke banyak perusahaan. Lalu beruntungnya, Tuhan langsung menyerahkan nasib saya ke satu perusahaan yang akhirnya membuat saya jadi karyawan tetap selama 2,7 tahun hingga hari ini.

Selama saya hidup, saya pun mengerti mengapa Tuhan memberikan saya kejatuhan. Karena kalau sudah bangkit, rasanya seperti balas dendam!! 

Contoh kecil lainnya adalah waktu saya SMP, saya pernah diminta untuk mengikuti lomba pidato dalam bahasa inggris. Itu adalah momen yang paling menakutkan dalam hidup saya, karena saya bukan termasuk murid yang pintar. Inggris saya selalu dapat jelek. Dan saya memang kalah telak, ditambah rasa malu pada saat melihat banyak penonton yang tertawa aneh tepat di depan muka saya. Sungguh sebuah momen kelam yang tak terlupakan. Tapi singkat cerita, semua terbayarkan pada saat saya bisa menjadi juara 1 speech contest di SMA. Meskipun hanya melawan internal sekolah saya waktu itu, tapi dendam saya sudah terbayarkan.

Saat bangkit, saya berusaha sangat keras! Ditambah, saya jadi lebih confident karena sudah mengerti medan perangnya.

Saya tahu kapasitas saya tak akan bisa seperti Mark Zuckerberg atau Steve Jobs atau para entrepreneur muda sukses yang sudah menjamur sekarang. Saya bukan lah seorang pria yang maksimal dalam menjalankan pekerjaan saya. Namun saya ingin membereskan masalah yang saya buat sendiri.

Anton Suryadi

Independent but not a sociopath