Tentang Film Green Book



Dibuka dengan lantunan musik berdendang ala 60's "That Old Black Magic" karya Frank Sinatra, diikuti dengan cinematografi handal dari meriahnya club klasik Kota New York, saya pun langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Ini merupakan salah satu ciri khas dari Film Hollywood yang paling saya sukai.

Dan muncul lah Tony Lip (Viggo Mortensen), bouncer (tukang pukul) di club tersebut. Bekerja sangat bagus dan kasar (tentunya) untuk menjaga rasa nyaman pengunjung. Meskipun begitu, ia harus menerima kenyataan pahit kalau club tersebut harus tutup sementara karena renovasi. Pria dua anak yang tinggal di Bronx ini harus puter otak untuk mendapatkan pekerjaannya kembali.

Hingga ia bertemu dengan Dr. Don Shirley (Mahershala Ali), pianis kulit hitam yang sedang mencari supir yang siap mengantarkan dia selama  8 minggu untuk tur di konser-konser megah di Amerika bagian pertengahan hingga selatan. Lokasi yang buruk untuk pria kulit hitam.

Hal yang unik, lucu dan sangat dibenci saat itu, kala orang kulit putih yang menjadi bawahan orang kulit hitam. Tercium sekali aroma rasis waktu mereka berdua berada di kota yang masih menyetujui perbudakan kaum kulit hitam.

Meski diawali dengan prasangka buruk dan ketidakcocokan karena keegoisan mereka berdua, namun selama diperjalanan yang sangat panjang tersebut, mereka menemukan kenyataan yang akhirnya mampu menyembuhkan diri mereka masing-masing. Yup, mereka menemukan sebuah integritas. 



Film bertemakan rasisme kembali memasuki Oscar. Selain sebagai pengingat tentang betapa buruknya sifat masyarakat kulit putih jaman dulu, film ini pun dibentuk dengan sangat sempurna. Seperti 12 Years of Slave dicampur dengan Intouchables.

Berdasarkan kisah nyata, Mortensen dan Ali berhasil memerankan kedua tokoh tersebut dengan ciamik. Tak ada yang mengenal Mortensen sebagai Aragorn, kesatria di The Lord of The Ring karena tampilan tubuhnya yang berhasil dibuat cukup gemuk. Sedangkan Ali, saya tak pernah menyangka dia yang sudah bermain di Moonlight, House of Cards dan yang terbaru tahun ini, True Detective. Di Green Book, mereka berhasil menjadi seseorang yang sangat berbeda. Pantas Oscar memilih mereka berdua menjadi nominator kembali.

Untuk sang sutradara, Peter Farrelly, mungkin tak ada yang tahu kalau ia yang ada dibalik film Dumb and Dumber. Saya sendiri tak tahu, karena ia tak pernah muncul di Oscar. Tapi yang pasti, dengan hasil yang sanggup merubah hati para penontonnya ini, apalagi dengan sangat jelas mempertontonkan dua orang pria dengan penuh integritas, it's a very good job for Mr. Farrelly!

Anton Suryadi

Independent but not a sociopath

No comments:

Post a Comment