Tentang Rasa dan tahun 2018

Sejak kecil, saya mulai menulis karena masalah "rasa". Sekarang pun sama, karena "rasa", saya akhirnya mau menulis lagi. Hampir satu tahun saya vakum menulis karna masalah karir. Mungkin memang bukan topik yang saya suka jika harus bahas kerjaan disini. Karena masalah "rasa" lah yang kembali membuat saya menulis.

Sekilas tentang tahun 2018 sebelum saya bicara mengenai masalah "rasa" ini (tentang cinta pastinya, tapi terlalu cheesy saat ini kalau saya pake kata tersebut). Karir adalah goal utama saya di tahun 2018, hingga akhirnya saya pindah kerjaan sebanyak dua kali plus memberanikan diri untuk buka usaha bareng dua teman saya. Hingga sampai sekarang saya memiliki double job, hal yang saya rasa mudah, tapi membuat stress tiap harinya.

Memang bukan pekerjaan favorit saya, tapi setidaknya saya dapat merasakan dua pekerjaan ini. Yang satu, meningkatkan salary plus jabatan saya, dan kedua, saya harus bertindak sebagai owner. Rasanya seperti memaksakan diri untuk naik level. Alhasil tak berjalan mulus. Tapi sekali lagi, saya ingin belajar semua hal ini karena usia saya sudah di angka 26 tahun.

Dan tak terasa, sekarang sudah di bulan Februari 2019. Sebentar lagi saya ulang tahun, dan hidup terus berjalan. Saya harus cepat memutuskan untuk menjadi apa lagi saya nanti. Meskipun tidak berjalan secara smooth. Tapi saya yang paling tahu tentang diri saya, seorang yang ceroboh, tak fokus pada satu hal, namun berani mengambil resiko.

Hal seperti ini lah yang membuat saya tak terlalu fokus terhadap masalah "rasa" lagi. Karena butuh modal untuk mendekati seseorang. Dan secara pengalaman, akhirnya gagal hehehe.

Saya sedang jatuh "rasa" lagi. Tiba-tiba dibuat galau dan sejenak melupakan dua pekerjaan saya. Padahal saya harus mikirin gimana caranya bayar supplier, deadline pekerjaan kantor, cara ningkatin penjualan, urus invoice vendor. Waduh, akhirnya saya bisa terlepas dari semua itu karena perasaan ini lagi.

Tentu saja pada orang yang berbeda, dan sekali lagi, saya tau kalau saya tak bisa mendapatkan orang ini.

Balik lagi seperti masa SMA, saya mempunyai harapan yang mustahil akan hubungan yang tak mungkin ini. Waktu saya sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi berujung pada rasa sakit yang sama besarnya dengan usaha saya. Oleh karena itu saya tak mau berusaha dahulu. Nanti saja saat pekerjaan saya ini bisa menghasilkan penghasilan yang besar untuk saya.

Saya sangat realistis. Saat orang baru menemui saya, mereka pun bilang kalau saya harus berpikir realistis sambil dibumbui kata-kata pemberi harapan singkat seperti "usaha dulu aja, mungkin dia bisa luluh." Sekali lagi, saya sangat mengenal diri saya, dan hal ini tidak terjadi sekali dalam kehidupan saya. Miris memang, tapi saya tak terlalu banyak solusi untuk hal macam ini. 

26 tahun gagal dalam masalah percintaan.

Meski saya tahu hal ini hanyalah dapat dibawa dengan doa, saya pun akhirnya pasrah. Tenggelam saja dengan perasaan ini. Parahnya, ini Bulan Februari, saya tak mau merasakan hal-hal tolol saat valentine nanti.

Tapi terima kasih. Meski tak enak rasanya, saya pun bisa melupakan masalah lainnya. Jikalau saya akhirnya maju untuk mengejar impian akan "rasa" ini, pasti saya akan bertindak maksimal. 

Ah sudahlah, saya sudah sampai di usia dimana "ada uang, semuanya lebih mudah." Kerja dulu!

Anton Suryadi

Independent but not a sociopath

No comments:

Post a Comment