Kabur

Kabur. Adalah kartu andalan saya saat sedang terpuruk. Saya selalu memberikan masalah terhadap diri saya dan saya rasa itu sangat wajar saya lakukan. Saya merasa "pantas" mendapatkan hukuman tersebut. Hingga akhirnya kabur menjadi sebuah solusi. Jadi saat sedang hancur, sekalian saja mengebom diri sendiri.

Saya mulai kabur semenjak saya lulus kuliah. Saya rasa saya mulai bebas dari genggaman keluarga. Saya tak bisa lagi menunggu lama untuk merasakan penderitaan. Alam bawah sadar saya mengatakan kalau saya harus segera pergi dari hal tersebut. Momen waktu kecil saat saya tak punya teman dan jadi target bully adalah momen yang membentuk karakter saya sekarang. Saya punya landasan yang kuat kenapa saya harus kabur. Saya tak ingin menderita.

Ada kala saya merasa saya pantas menderita, tapi ada kala saya ingin lepas dari penderitaan itu. Saya selalu ingin memulai segalanya dari nol kembali. Bertemu dengan orang baru, kerjaan baru, dan memulai komunikasi yang baru. Saya rasa kalau saya bisa melakukan hal ini lagi, saya akan menemukan kebahagiaan. Tapi saat dewasa kita tahu kalau hal itu tak mungkin.

Meskipun saya sudah sadar penuh, tapi pengalaman semasa kecil tetap membuat saya ingin kabur. Khususnya saat ini. Saat semua masalah kembali jadi satu. Saya hanya bisa merasakan sakit yang bukan main rasanya. Saya ingin lepas dari semua ini.

Hingga saya mencoba ke psikiater. Saya merasa kalau saya butuh pengobatan. Saya selalu butuh sejak kecil tentunya. Saya ingin minum pil yang buat perasaan saya menjadi stabil. Tidak naik turun seperti roller coaster. Lalu saya pun minum dan berhasil menerangkan pikiran saya kembali, untuk beberapa saat. Karena efek sampingnya ternyata kurang mengenakan. Pernah saya terbangun di pagi hari dengan perasaan seperti cemas bukan main. Saya pun berhenti mengkonsumsi obat tersebut.

Tentu saja saya butuh obat tersebut agar bisa stabil dari semua keadaan ini. Tekanan-tekanan yang menghambat produktivitas saya. Yang pada akhirnya selalu membawa trauma masa kecil saya. Itu sungguh perasaan yang tak enak. Ditambah saat ada teman yang hanya bisa bilang "harus dibuang pikiran-pikiran negatif". Andai kepala ini seperti komputer yang bisa diklik kanan lalu pilih "trash". Ini tidaklah mudah, kawan.

Balik lagi, saya pun ingin kembali kabur. Saya tak bisa merasakan ini lagi. Sempat terpikir di benak saya kalau saya harus kabur keluar negeri. Bukan kabur dari rumah dan cari kos-kosan lagi. Itu lah impian saya sejak kecil. Punya rumah baru. Terus-menerus punya rumah baru. Makin jauh, makin baik.

Saya sayang terhadap diri saya sendiri. Saya ingin kabur...

ohhgetoo

Independent but not a sociopath

No comments:

Post a Comment