Cerpen: Tanpa Batas

Katanya cinta itu harus konsisten. Jika ditilik dari usiaku, sepertinya aku sudah mencintai orang ini lama sekali.

4 SD, kala aku bertemu dengan Satria. Seorang murid dari kelas lain yang menggenggam tanganku ketika secara tiba-tiba lampu ruang teater yang besar itu mati. Saat itu kami sedang latihan drama Sangkuriang bersama dengan yang lain, dan Satria tahu kalau aku sangat takut terhadap gelap. Sambil memegang tanganku, ia pun menghibur,

"Ini gara-gara kamu. Mengutuk kami semua menjadi batu. Dasar Ibu jahat!"

Aku tertawa sekilas, melupakan sejenak suasana gelap yang mengganggu. Untuk pertama kalinya aku merasa ada yang bisa melindungiku.

Momen yang tak akan pernah aku lupakan itu, pada akhirnya membawa kami ke masa SMA yang penuh perubahan.

Satria terus berubah menjadi murid yang paling baik di sekolah. Secara nilai, ia selalu bagus, dan selalu aktif dalam kegiatan sekolah. Ia pun diangkat menjadi ketua OSIS kala itu. Dengan semangatnya, ia selalu mengadakan acara-acara yang menarik. Dimulai dari perlombaan olahraga antar sekolah hingga lomba menjadi entrepreneur. Saat itu sudah menjadi hobi banyak anak muda untuk menjual sesuatu yang sanggup mereka buat dengan tangan mereka sendiri.

Aku sebenarnya hanya sekali dua kali berbincang dengan Satria sejak momen mati lampu tersebut. Sebab dia sangat populer, banyak perempuan yang mendekatinya. Aku selalu merasa kalah, dan tak punya keberanian untuk mengatakan sesuatu kepadanya.

Diary, adalah teman setiap malamku untuk mengungkapkan rasa suka ini. Namun aku sudah tidak tahan. Aku harus melakukan sesuatu ketimbang menulis dan terus berkhayal. Masa vakum sudah berakhir, aku akan mengikuti salah satu perlombaannya, entah apa pun itu.


ENTREPRENEUR DAY - 2018


Notifikasi grup whatsapp-ku berbunyi, dan poster lomba di pertengahan tahun 2018 sudah dibuat. Secara cepat, mataku langsung tertuju ke lomba entrepreneurship yang langsung diketuai oleh Satria. Wah, aku harus ikut!

"Bel, ada lomba drama antar sekolah nih. Daftar yuk!" Ajak Jaka, salah seorang temanku yang juga mengikuti kelas teater di sekolah.

"Aku kayaknya mau ikutan lomba entrepreneurship deh. Seru juga bisa jualan sesuatu."

"Hahaha.. Jangan khayal. Masak indomie aja masih belum bisa malah mau jualan. Udah, aku langsung daftarin ya." Paksanya.

"Gak ah. Aku mau coba hal yang baru. Lagian, gak harus bisa masak kan untuk jualan."

"Lantas, kamu mau jualan apa nanti? Ini temanya 'Thirst and Yummy' loh. Jadi harus makanan atau minuman."

Benar juga ya. Aku sama sekali tak tahu tentang makanan atau minuman. Tapi aku positif, nanti pasti ada jalan. "Lihat aja de nanti." 

Tapi sayangnya tidak. Otakku sangat dangkal untuk memikirkan hal seperti ini. Papaku seorang karyawan yang kerja di Bank, dan Ibuku selalu ikut arisan bersama teman-temannya di rumah. Tak ada yang bisa kuminta pendapat. Padahal 3 hari lagi pengumpulan ide jualannya. Tapi hanya aku yang belum siap dari 5 kelompok yang ikutan.

"Udah ketemu belum idenya, Bel??" Tanya Jaka. Alhasil aku paksa dia untuk masuk ke dalam kelompokku, karena minimal harus dua orang. Tapi kami seperti dua sosok yang berada di atas perahu tanpa sekalipun mendayung. Terlalu bodoh.

"Duh bantuin dong. Apa jual nasi salted egg aja ya?"

"Itu kan uda dipake idenya sama timnya Catherine. Dia double lagi sama jual Thai tea. Seger kayak isi tim mereka." Ya ya ya.. Tiap kelas pasti ada tim yang paling cantik, perempuan blesteran Jerman Indo ini merupakan idaman tiap pria di dalam kelas. Katanya Satria sempat dekat dengannya. Tak akan kubiarkan!

"Hey, Ibu Sangkuriang."

Detak jantungku hampir berhenti. Apalagi saat muncul nama panggilan yang sudah lama menjadi hantu di tiap mimpiku itu. Dengan malu-malu aku hanya bisa membalas, "ya?" 

"Kamu sudah dapat idenya kah? Soalnya harus segera aku buat proposalnya" Tanyanya dengan senyuman dan muka super manis itu.

"Kalau belum dapat, kami bisa pindah ke lomba yang lain tidak ya?" Celetuk Jaka, yang sangat ingin kutampar mukanya.

"Kalian tak mau ikut lomba ini?"

"Hah, tidak kok. Kami sudah dapat idenya. Nanti kami kirimkan email detailnya ke kamu ya. Tunggu aja." Bohongku. Sudah tak tahu lagi harus bicara apa.

"Baiklah. Kalau begitu ditunggu ya. Buat yang menarik dan kalahin tim yang lain!" Ia memberikanku semangat. Ya Tuhan, kenapa aku harus tergila-gila padanya?

Sejak momen itu, aku makin berusaha mencarinya di google, semua produk franchise sampai melihat cara pembuatannya di youtube.

"Wah, susah-susah banget ya!!" Teriakku yang memang tak punya pasion di bidang kuliner


...


Di hari terakhir pengumpulan ide. Aku sudah hopeless. Semua jalan buntu. 

Namun sesuatu yang tak terduga muncul di laci meja kelasku. Tiba-tiba aku melihat sebuah amplop putih besar dengan tulisan, "Sebuah Ide, untuk Bella" dan sebotol minuman.

Saatku buka, secarik kertas A4 telah memberikan jawaban yang telah lama kunanti. Banyak sekali hasil penelitian yang ditulis dengan menggunakan komputer. Menyatakan kalau mayoritas siswa-siswi di sekolah ku butuh makanan dan minuman yang sehat, dan banyak permintaan akan susu fitnes untuk membentuk otot. Apalagi acara yang berlangsung nanti memang diisi banyak kompetisi olahraga.

Baiklah, tanpa pikir panjang, aku percaya pada ide yang entah dikasih oleh siapa ini. Hanya ada satu simbol yang ditulis tangan di kanan bawah kertas. Dan simbol tersebut berbentuk infiniti. Tanpa batas.

"Apakah ini dari Satria? Apakah ia kembali menyelematkanku di saat rentan seperti ini?" Pertanyaan itu terus muncul dibenakku sampai di hari H perlombaan.

Berlangsung sangat meriah. Lomba futsal, basket, hingga voli yang dihadiri murid-murid dari sekolah lain membuat sekolah kami menjadi makin terkenal. Semua berkat Satria. Kepemimpinannya membuahkan hasil. Khususnya untuk lomba terbaru buatannya yang secara sukarela ia supervisi sendiri, yakni entrepreneur day. Ia pun mendekornya secara menarik di tengah-tengah perlombaan yang lain.

Meski ada sedikit penyesalan, saat aku melihat teman-temanku yang sedang berada di panggung teater dengan kostum dan make-up mereka dengan tema 'Masa Depan'. Hobiku yang aku tinggalkan demi mendapatkan perhatian besar dari pria ini.

Tapi semua tak sia-sia, karena hasil jualanku paling banyak dari antara yang lain. Tim Catherine pun terus memandang iri dan kesal ke arahku. Banyak yang tak sabar membeli susu fitnes racikanku ini. Semua peserta lomba dari sekolah lain pun berbondong-bondong membeli banyak minumanku.

Acara yang berlangsung selama 3 hari ini, tak disangka, stock jualanku selalu habis, dengan keuntungan yang besar. Baru pertama kalinya aku dan Jaka mempunyai uang pribadi sebanyak ini.

Saat penentuan pemenang pun, tim ku langsung mendapatkan juara satu.

"Selamat ya. Idenya berhasil" Kata Satria sambil memberikanku piala kemenangan. 

Aku tahu, itu pasti dia.


...


Popularitas. Aku rasakan sejak kemenangan hari itu. Banyak pria yang melihatku dengan cara yang berbeda. Bahkan Satria mulai sering berbincang denganku, yang tanpa kusadari, konsisten tiap harinya. Dimulai dari ajakan makan bareng di kantin, obrolan soal hobi, keluarga, dan impian.

"Aku tak ingin seperti ayahku. Selalu duduk di belakang meja kerjanya dan memakai pakaian formalnya setiap hari." Katanya saat kami sedang makan es krim di jam istirahat.

"Memang kenapa dengan bekerja di belakang meja? Bukannya santai." Kataku polos.

"Itu bukan aku. Aku selalu ingin mempunyai sebuah usaha yang besar suatu hari nanti. Jadi pebisnis, dan bisa pergi keliling dunia."

"Aku sendiri tak tahu akan menjadi apa nanti. Aku hanya ingin hidup nyaman."

"Kamu harusnya juga menjadi pebisnis, Bel. Kamu sangat hebat di bidang itu. Kenapa kamu tak lanjutkan menjual susu fitnesnya, kan bisa jualan online?" 

Aku sebenarnya tak tahu harus menjawabnya dengan apa. Karena aku sendiri punya hobi yang sudah kutinggalkan sekarang. Mungkin aku harus memberitahukannya.

"Aku ingin kasih tahu kamu satu rahasia."

"Wah, satu rahasia lagi dari Bella. Kali ini apa?"

"Aku sebenarnya... ingin jadi artis."

Sekilas, ia terlihat ingin tertawa. "Wah, kamu ingin lanjutin jadi Ibu Sangkuriang ya."

"Aku juga tak tahu. Aku hanya merasa bahagia saja saat berada di atas panggung."

"Itu karena kamu suka berbohong."

"Maksudnya?"

"Hanya pembohong besar yang selalu memakai topeng dimukanya. Lalu tak pedulikan orang-orang sekitar yang sudah tampil jujur." Katanya dengan sedikit marah. "Maaf, sepertinya aku harus pergi dulu." Ia pun pergi dengan raut muka yang tak pernah kulihat itu.

Desas-desus mengatakan kalau Satria adalah anak broken home. Ayahnya selingkuh sejak ia masih kecil, dan sering terjadi pertengkaran di rumahnya. Mungkin ia teringat akan momen gelap tersebut saat berbicara denganku tadi. Sepertinya aku tak boleh membicarakan hobiku lagi kepadanya. Aku ingin membuatnya nyaman.


...


Lulus SMA, aku dan Satria sudah memiliki rencana untuk mengambil kuliah jurusan bisnis di sebuah universitas ternama. Meski masih belum jadian, tapi aku merasa bahagia bisa selalu ada di dekat dia.

Sedangkan Jaka, ia mengambil jurusan seni panggung sesuai dengan hobinya. Ah aku sangat iri terhadapnya. Pasti sangat seru berada di tengah para seniman.

Biarlah. Aku akan mempertahankan posisiku sekarang ini.

Bersama dengan Satria adalah pengalaman yang tak terlupakan untukku. Ia sangat berbeda dengan pria lain. Dulu aku pun pernah disukai oleh pria dari keluarga yang kaya raya, Samuel namanya. Aku pernah beberapa kali diberikan barang bermerek olehnya meski sudah kutolak berkali-kali. Dia bahkan pernah mengajakku dinner di restoran mewah di Jakarta Pusat. Dengan pemandangan kota malam yang indah, ia menembakku.

"Mau tidak menjadi pacarku?" tanyanya grogi sambil memberikan sebungkus coklat kesukaanku. Ia tahu kalau aku tak suka bunga.

Saat itu aku bingung harus menjawabnya apa. Karena aku sama sekali tak menyukainya meski ia cukup tampan. Tapi aku hanya suka Satria, tidak ada yang lain. Aku pun pergi dinner dengannya atas dasar kasihan, karena ia selalu mengajakku tiap mendekati weekend.

"Maaf Sam, aku hanya ingin menjadi temanmu. Tidak lebih. Sepertinya aku salah pergi kesini dengan kamu." Dan langsung aku meninggalkannya seorang diri. Di benakku saat itu adalah aku tak ingin memberikan harapan palsu kepadanya. Biarlah ia sakit hati di awal, jangan di akhir.

Namun aku juga takut kalau Satria akan melakukan hal yang sama kepadaku. Mungkin aku harus lebih tegas kepadanya nanti mengenai hubungan kami.

Tapi ia sama sekali bukan seperti Samuel. Ia tak membelikanku sesuatu yang mewah, malah ia membantuku mendapatkan uang lebih banyak dengan cara menanam saham. Ia yang menjadi financial advisor ku saat kuliah. Dengan kepintarannya menganalisa, tabunganku benar-benar bertambah banyak. Aku seperti berada di hubungan orang dewasa kala itu.

Namun nilaiku masih sama pas-pasan seperti saat SMA. Karena aku memang tak terlalu tertarik pada bidang ini. Saat orang tuaku tahu kalau aku akan masuk jurusan bisnis, mereka sebenarnya senang akan keputusanku. Tapi mereka tak tahu apa dasar keputusan ini dibuat. 

Ah, mereka begitu konservatif.

Meski begitu, aku berhasil melewati masa kuliahku dengan lulus mendapatkan IPK 3,00. Sedangkan Satria mendapatkan cumloud, 3,73. Impiannya untuk mendirikan kerajaan bisnis sepertinya akan berhasil. Ia begitu serius akan hal ini. Tapi aku harus menanyakan satu hal yang menurutku juga sangat serius, mengenai hubungan kami.

"Satria, kita kan sudah lulus, aku ingin bertanya sesuatu yang serius." Kataku yang sudah tak sabar di sebuah kafe setelah ia duduk dan langsung mengeluarkan laptopnya dengan tergesa-gesa.

"Tunggu sebentar, Bel. Aku habis mendapatkan kontrak kerjasama yang menarik. Ada investor yang tertarik dengan usaha kita." Ya, aku masih terus bersama dengannya dalam satu usaha. 

Aku tak bisa menunggu lagi. Aku langsung to the point saat itu.

"Itu bisa ditunda 30 menit lagi. Kamu tahu kan kalau hubungan kita itu sudah berlangsung lama?" Tanyaku agak grogi. Aku agak takut dengan jawaban dia.

Satria pun berhenti melihat laptop-nya. Matanya langsung tertuju kepadaku dengan serius.

"Bella, aku tahu kemana arah pembicaraan ini. Sebagai rekan kerja, memang suatu saat bisa tumbuh perasaan yang kita tidak tahu benar atau salah." Aku kaget.

"Rekan kerja?!" Aku marah.

"Aku tak tahu. Aku hanya merasa sangat beruntung saat kita bersama. Semua begitu dimudahkan. Kamu sudah seperti malaikat penolongku."

"Baiklah. kalau hati kecil kamu mengatakan demikian." Aku bersedih. Lekas aku meninggalkan tempat itu. Satria langsung mengejarku.

"Bella, tunggu. Maaf, aku sama sekali tak bisa membedakan mana yang penting sekarang. Yang pasti sedikit lagi kita akan tambah sukses. Ayo berjuang sedikit lagi."

Aku tak peduli dengan arti kesuksesan menurut benaknya lagi. Aku lari menuju mobilku yang sedang terparkir, dan melaju dengan cepat.

Tak tahu lagi kemana arah tujuanku. Aku nangis begitu kencang. Hatiku sangat hancur seperti bom waktu yang akhirnya meledak. Aku hanya ingin pergi dari kota ini. Di umur 24 tahun ini, aku baru merasakan betapa bodohnya aku. Begitu buta dengan dorongan hati. Semua karena genggaman tangan itu. Aku harusnya lebih pilih ketakutan seorang diri, daripada terhibur sesaat dan masa depanku hancur. Kepalaku begitu pusing, banyak kata yang meluncur keluar di benakku. Hingga sebuah sinar terang masuk ke kaca mobil kiriku. Menghantam dengan keras, dan aku sudah tak sadarkan diri.


...


Infiniti. Aku terbang ke dalam dimensi lain. Aku melihat diriku sedang berada di atas panggung drama dan mengutuk seorang anak menjadi batu. Seketika, orang-orang sekelilingku pun turut berubah menjadi batu.

Apakah aku seorang ibu yang jahat?

Aku tak menangis. Aku keluar panggung dengan perasaan lega. Aku melihat orang lalu lalang dengan tatapan kosong. Mereka menjadi batu karena ulahku. Dan muncul lah Satria. Beku tak berdaya. Aku melihatnya dengan marah, lalu kudorong tubuhnya hingga jatuh dan pecah di tanah.

Seketika aku terbang lagi, menuju dimensi yang baru. Aku melihat diriku sedang menikah kini. Namun sosok pria itu tak kelihatan mukanya. Tapi kini aku bersedih. 

Apakah itu Satria? Aku sungguh ingin menikah dengannya.

Kulihat para penonton bertepuk tangan dengan bahagia. Di altar Gereja yang megah, aku dan pria ini berciuman. Air mataku terus mengalir tanpa henti, seakan ingin kabur.

Saat aku kembali terbang, aku berteriak dengan kencang, "BERHENTI!" Aku tak ingin mengelilingi dunia tanpa batas lagi. Karna aku hanya melihat semua dosaku kala itu. Tapi aku tetap terbang menuju sebuah cahaya, yang mana kurasakan kelopak mataku sedang terbuka. Aku pun melihat muka Satria yang begitu bahagia sambil menatapku.

"Bel... Bella... Kamu bisa dengar aku kan?" Tanyanya. Aku serasa tak berdaya di tempat tidur ini. Seperti habis dibius sesuatu, kepalaku masih kantuk. Rasanya aku ingin kembali tidur. Aku ingin balik lagi terbang ke dalam mimpiku. Rasanya begitu indah.

"Infiniti." Kataku pelan.

"Apa?" Satria sama sekali tak mendengarku. Aku tak peduli. Aku pun kembali tertidur.

Namun aku tak bertemu dengan mimpi lagi sejak saat itu. Aku hanya mengingat dua dimensi yang telah ku tempuh itu. Apa maksudnya? Aku sama sekali tak mengerti. Mungkin itu adalah buah dari yang sudah kurasakan selama ini, dan berubah menjadi bunga tidur. Beberapa hari kemudian aku pun merasa cukup sehat untuk duduk dan disuapi bubur oleh Satria.

"Ayok dimakan. Biar kamu cepat pulang dan kita terusin lagi bisnis kita." Katanya sambil bercanda.

Aku tak tertawa dengan candaannya kini. "Aku ingin keluar dari usahamu." Kataku cetus.

"Eh jangan-jangan. Maaf." Kemudian ia kembali menyuapiku. Mataku pun tertuju ke lengannya yang terlihat habis disuntik itu. Aku teringat apa kata dokter waktu ku sadar, kalau aku kehabisan banyak darah semenjak kecelakaan itu. Sehingga dokter harus mencari darah yang cocok untuk tetap membuatku hidup. Benakku menjadi bingung. Mengapa Satria mau melakukan ini?

"Terima kasih ya." Kata terakhirku yang keluar untuk Satria. Tapi aku tak akan menanyakannya apa-apa lagi. Aku sudah selesai berharap. Habis ini aku akan benar-benar keluar dari usahanya dan menyambut hari baru.

"Aku mau kasih tau kamu satu rahasia." Katanya tiba-tiba.

"Rahasia?"

"Iya. Semenjak kamu pergi di hari itu. Aku teringat kembali ke masa-masa awal kita bertemu. Khususnya di masa SMA."

"Oh, masa-masa kamu ingin serius buka usaha ya." Kataku cetus.

"Bukan, Bella. Aku teringat kalau kamu sebenarnya adalah sumber keberuntunganku. Entah napa, semenjak kita bersama, aku langsung melupakan keadaan di rumah. Aku menjadi sangat fokus semenjak aku lihat kamu dengan gigihnya berjualan di hari itu. Semua orang datang dan membeli barang daganganmu. Di benakku, aku tahu kalau aku harus berada di dekatmu."

Kami terdiam sejenak. Ia pun mulai menggenggam tanganku.

Kemudian dia lanjut bicara. "Lalu saat kamu pergi dengan sedihnya di kafe itu, entah napa aku juga ikut bersedih. Kamu adalah seorang wanita yang sudah menemaniku sejak SMA. Kita sudah berjuang bersama selama ini. Aku baru sadar apa yang selama ini aku butuhkan, Bella. Aku butuh partner hidup yang sangat kuat. Yang selalu mendukung semua yang kuinginkan. Aku butuh kamu."

Sudah lama aku tak merasakan ini. Jantungku kembali berdegup kencang. Namun kali ini kelihatan dari suara mesin detak jantung di sebelahku. Aku pun menjadi malu. Namun sambil bertanya pelan kepadanya, "Lalu, kamu mau apa?"

"Hal yang selama ini aku tak pernah pikirkan. Aku ingin serius dengan satu wanita itu. Aku ingin selalu berada didekatmu, Bel."

Aku teringat saat pertama kalinya berada di atas panggung dan berhasil memerankan sebuah tokoh. Ketika semua orang bertepuk tangan, aku merasa sangat bahagia bukan main. Sebuah perasaan yang tak dapat dibeli oleh apa pun. Sama seperti saat ini, aku begitu senang dan kembali mengeluarkan air mata. Aku pun merasakan tubuh hangatnya ketika ia mulai memelukku. Aku merasa terlindungi kembali.


...


Lonceng Gereja telah berbunyi. Mempelai sudah menghampiri. Cincin pun ada di jari.

Kami menikah setahun kemudian. Usaha kami juga sudah membuahkan hasil yang sangat bagus. Aku sangat senang dengan pilihanku. Seakan sedang membangun kerajaan dengannya.

Kemudian aku menangis.

"Loh, kenapa menangis lagi?" Tanya Satria saat kami sedang beres-beres di apartemen baru kami.

"Ini tangisan bahagia." Candaku. Namun memang keadaan tubuhku menjadi berubah sejak kecelakaan itu. Di momen-momen tertentu aku sungguh merasa sangat sedih, entah kenapa. Sempat aku berada di ruang meeting bersama dengan kolegaku, dan air mata ini mengucur dengan sendirinya. Aku sempat bertanya ke dokter psikis, katanya ini efek jangka pendek karena tubuhku sedang menyesuaikan diri lagi semenjak kecelakaan itu. Tapi kurasa ini sesuatu yang lain. Aku merasa sesuatu telah hilang dari hidupku. Apakah ini tentang impianku? Memang terkadang aku masih mengidamkan berada di panggung teater lagi. Tapi biarlah, aku harus bersyukur.

"Ngomong-ngomong kita harus rekrut orang baru loh. Bisnis kita makin besar. Aku butuh seorang analis." Kata Satria sambil tetap membereskan barang.

"Ya sudah. Nanti ku buatkan memo ke tim HR."

"Aku sebenarnya kepikiran satu orang. Teman lama kita. Tapi entah dia sekarang jadi apa."

"Siapa?"

"Kamu masih ingat Jaka?"

"Hahaha... Dia mana suka kerja kantoran. Hidupnya sudah di atas panggung. Mungkin sekarang dia sedang main film bersama dengan artis-artis besar." Kataku dengan hati penuh iri.

"Dia sebenarnya punya potensi selain main film loh. Aku ingat waktu dia mengirimkan survei online ke aku dan teman-teman kita dulu."

Tiba-tiba aku menjadi penasaran. "Survei apa ya?"

"Kamu tak tahu? Survei tentang usahamu waktu SMA. Dia kasih banyak pertanyaan yang begitu lengkap, dan berani kasih makan siang gratis untuk semua anak yang mau isi. Sepertinya ada 100 anak yang isi waktu itu."

Aku terdiam. Aku teringat lagi pada amplop putih itu. 

"Infiniti." Kataku pelan.

"Apa?"

Aku menatap Satria, dan kembali menangis.


...


Sejak melihat Bella, aku tahu kalau aku akan konsisten mencintai dia. Aku tahu itu. Saat awal aku mengambil semua tabunganku dan berniat mentraktir semua teman-temanku hanya untuk survei itu, di benakku hanya muncul satu pikiran, 'aku harus buat Bella senang!'.

Namun semua berubah sejak ada Satria. Kisah SMA memang kisahnya para remaja yang sedang dibutakan cinta. Aku berusaha untuk tak buta lagi semenjak tahu kalau Bella mulai dekat dengan Satria. Mereka terlihat begitu serasi. Aku mungkin harus melepaskan perasaan ini.

Dan tentu saja aku tunjukkan dengan pergi kuliah di tempat yang aku idam-idamkan sejak kecil. Aku ingin sekali beradu akting dengan orang besar. Bella pun sangat menginginkan hal ini. Pernah aku mengajaknya untuk berada di jurusanku. Tapi ia begitu mencintai Satria. Hatinya sudah tak mengikuti talentanya lagi. Saat ku tatap mata sedihnya, aku tahu kalau hanya Satria yang sanggup membuatnya bahagia.

Namun Tuhan berkata beda. Entah apakah ini sebuah kutukan atau tidak, tapi aku selalu bertemu dengan Bella, lagi, dan lagi. Padahal sudah menjauh, tapi sekelibat, aku selalu menemuinya di tempat-tempat yang tak terduga. Pernah aku menemuinya saat sedang berbelanja di pasar swalayan. Dia pun sangat penasaran dengan kegiatan kuliahku. Ia terlihat sangat antusias, seakan ia yang berada di posisiku kala itu. Pernah juga aku menemuinya saat bersama dengan Satria di sebuah kafe. Aku melihatnya masih menatapi Satria dengan penuh harap disaat Satria sedang serius bekerja. Aku sebenarnya kasihan dengan Bella. Tapi aku tahu dia sangat keras kepala. Saranku akan dibuang mentah-mentah olehnya.

Kemudian muncul kecelakaan itu. Aku sedang beli kopi untuk belajar naskah film, sampai aku melihat tabrakan yang sangat kencang di depan bola mataku. Dengan cepat aku menghampiri mobil tersebut.

"Bella!" Aku melihat mobil yang sudah tak asing lagi. Dan Bella sedang tergeletak tak sadarkan diri. Tanpa pikir panjang, aku langsung menyelamatkannya. Darahnya begitu banyak. Ia mendapatkan luka tusuk di perutnya. Dengan cepat aku mengangkatnya dan memasukkannya ke dalam mobilku. Aku ngebut menuju ke rumah sakit terdekat.

"Bella, kamu harus selamat!"

Ia sudah berada di tangan yang tepat. Namun sang dokter tiba-tiba memberikanku pernyataan yang menyeramkan. Katanya ia sangat membutuhkan darah, atau ia akan meninggal.

"Apa tidak ada darah yang cocok dengannya di rumah sakit ini Dok??!!"

"Sudah saya cek, tapi tidak ada." Katanya seraya menelpon rumah sakit lain untuk menanyakan stok darah yang pas untuk Bella.

Dengan cepat aku langsung mengulurkan tanganku dan meminta dokter untuk mengeceknya. Sesuai dugaanku, sangat cocok. Ini merupakan kutukan yang lain dari Tuhan

"Kamu akan pingsan setelah kami ambil darah kamu. Karena Bella membutuhkan banyak sekali darah. Apakah tak apa?"

"Ambil dok! Saya tidak peduli!"

Benar saja, sejak darahku mengalir tanpa henti, aku mulai berkhayal. Pandanganku menjadi tak fokus. Aku hanya memikirkan Bella yang tergeletak tak berdaya saat itu. Aku kembali memandang masa SMA ku yang masih mencintai dia. Aku terjebak di tubuh itu lagi. Kemudian semua menjadi gelap.

Aku terbangun keesokan harinya di sebuah ruangan rumah sakit. Saat berkaca, aku terlihat begitu pucat bukan main. Ini efek karna darahku diambil kata dokter.

"Bagaimana dok kabarnya??" Tanyaku penasaran.

"Kondisinya saat ini sudah stabil. Kamu sudah boleh tenang. Keluarganya juga sudah datang bersama dengan seorang pria yang mengaku sebagai pacarnya."

Aku terdiam sejenak saat tahu ada Satria. Aku sangat senang karena Bella sudah selamat, tapi entah mengapa aku tak ingin ia tahu tentang kehadiranku. Ini adalah kebiasaan dari dulu. Aku selalu ingin menjauh darinya, tapi tubuhku selalu otomatis membantunya. Aku tak ingin menjadi buta karena cintaku padanya, semoga habis ini Bella tak membutuhkanku lagi.

Aku selalu memandang realita.

Setelah aku membuat perjanjian dengan dokter agar identitasku dirahasiakan, aku pun mengecek Bella sebentar. Meski hanya bisa melihat dari kaca jendela kamarnya, aku sudah bahagia. Ia sudah bersama dengan Satria dan keluarganya. Aku menangis kala itu. Kemudian pergi dari rumah sakit dan tak pernah balik lagi.


...


Aku sudah berteman dengan Bella sejak SD. Saat kami berada di ruang teater yang besar dan secara tiba-tiba mati lampu. Aku tahu kalau Bella sangat takut, aku selalu benci dengan kegelapan. Aku juga sebenarnya takut, tapi Bella selalu menguatkanku, aku pun langsung memberanikan diri mencari saklar yang letaknya jauh di belakang bangku penonton. 

Dan kembalilah terang.

Masa kecilku akhirnya ditutup dengan kesadaran diri kalau Bella tak akan pernah menjadi milikku.
Karna saat ku lihat senyuman Bella terhadap Satria dari kejauhan, aku sudah tahu kalau terang tak akan pernah cukup untuknya.


ohhgetoo

Independent but not a sociopath

No comments:

Post a Comment