Orang Jujur Bilang Saya Alien

Ada apa dengan kejujuran? Saya menerima pendapat jujur sejak saya kecil. Melemahkan. Tapi mengacu pada realita. Jujur tak memiliki batasan antara menghina, mengkritik, dan menghakimi. Semua adalah normal untuk setiap kita dalam berkata-kata.

Kemudian muncul hal-hal yang katanya boleh dan tidak boleh. Moral. Ah, saya benci saat disinggung moral. Guru-guru berbicara moral, namun mereka tetap mengijinkan teman-teman saya berbicara 'jujur' ke saya sejak dulu. Sama halnya dengan keluarga dan orang paling religius sekalipun.

Saya hanya belajar satu hal terhadap mereka semua yang selalu bicara 'jujur' ke saya (biar tak bingung. Tepatnya adalah menghina saya). Mereka hanya ingin berada di depan orang yang membuat mereka nyaman. Dan saya adalah satu entiti yang membawa ketidaknyamanan itu. Saya begitu kurus, lemah, dan sangat berbeda dari mereka semua, saya adalah alien.

Apakah ada ilmu sihir yang membuat orang-orang menjadi tak nyaman terhadap saya? Saya mungkin pernah mempercayai itu. Kemudian saya belajar untuk membuat mereka nyaman dengan cara membuat mereka tertawa. Saya merasa unggul dalam hal lelucon. Rasanya senang saat membuat orang lain senang, tapi itu hanya sementara. Karena saya tidak mendapatkan satu hal yang saya inginkan dari mereka, yaitu "teman" dan "penerimaan".

Saya pernah bertemu dengan kelompok religius saat masih SMA yang saya rasa mereka mampu menerima saya, dan tentu saja menjadi teman saya. Title-nya memang mencari Tuhan, tapi tak bisa saya bohongi, saya pun mencari sesosok teman. Singkat cerita, mereka ternyata tak pernah menganggap saya seorang teman hingga lulus sekolah. Saya hanya sebagian kecil dari ketidak sengajaan di dalam kelompok itu.

Namun disitu saya belajar sesuatu, setelah menerima kenyataan yang begitu menyakitkan. Saya pun menerima diri saya sendiri, apa adanya. Berteman dengan diri saya sendiri. Perlu waktu lama, sampai saya benar-benar lulus kuliah, saya pun bisa merasakan sensasi kebebasan.

Namun tetap, 'kejujuran' orang lain selalu menjadi pedang yang menusuk hati saya hingga sekarang. Tapi saya berusaha untuk tak terpedaya dan tetap berpegang teguh terhadap apa yang saya percayai. Saya percaya kalau diri saya masih memegang kekuatan besar.

Saya sudah ditempa hingga ke titik paling panas dalam inti bumi, dan saya bertahan hidup. Hanya segelintir orang yang mengerti akan perasaan ini.

Saya adalah alien yang pada suatu malam sedang memandang bintang-bintang di angkasa. Hidup ini memang selalu diselimuti oleh kegelapan, namun cahaya kecil tak akan pernah redup. Karna sang alien telah menemukan amarahnya kembali, dan itu adalah bahan bakar untuk menuju ke dunia yang baru.

New Level.

ohhgetoo

Independent but not a sociopath

No comments:

Post a Comment