Seni Penghakiman

Ada dua sisi dalam sebuah cerita. Dan tugas kita adalah menemukan siapa yang bersalah lalu menghukumnya. Namun apakah kita mau "mendengarkan" cerita dari dua sisi tersebut?

Konflik muncul, dan manusia hadir dengan keterbatasannya. Terbatas dalam ilmu pengetahuan, terbatas dalam menjawab norma sosial; Plus, terbatas dalam beragama.

Hal ini menjadi makin rumit. Jika kamu adalah hakimnya, apakah kamu masih mau "mendengarkan"?

Mesin diciptakan untuk memudahkan pekerjaan manusia. Sama halnya dengan peraturan. Saat kamu mencuri, maka kamu akan dihakimi bersalah oleh negara. Saat kamu berpacaran saat masih SMA, maka kamu akan dihakimi bersalah oleh orang tua. Manusia gemar membuat peraturan untuk menjaga stabilitas.

Politik. Akhirnya muncul karena rakusnya manusia untuk menjadi hakim. Atau bisa dibilang keinginan manusia untuk menghindari semua peraturan yang 'juga' dibuat oleh manusia.

Kemudian muncul sebuah kepercayaan. Kegiatan intrapersonal, supranatural, pada sesuatu yang tak bisa kita lihat. Sebuah peraturan kembali muncul dalam sesuatu yang katanya tak bisa diganggu gugat. Hal ini lebih dalam dari pada peraturan negara. Pengikutnya juga lebih banyak, meski tetap terpecah belah.

Peraturan yang dianggap sangat sakral ini kemudian kembali dilindungi oleh politik. Penguasa tertinggi yang dicintai banyak umat manusia. Penguasa dalam rupa manusia yang memegang kendali, dan tetap menentukan mana yang benar dan salah.

Apakah itu baik? Tentu saja. Karena tak ada yang bisa hidup tanpa pemimpin. Seorang pengambil keputusan yang siap menanggung segala resiko. Namun apakah keputusan tersebut bijak? Pengikutnya lah yang bisa menghakimi. Hanya dalam pikiran mereka.

Lalu bagaimana caranya kamu menghakimi seseorang? Kebanyakan tentu saja dengan peraturan yang sudah dibuat.

Melanggar peraturan adalah salah. Sama seperti matematika, 1+1 = 2.

Manusia memang selalu ingin hidup dengan mudah. Tentu saja banyak yang mengikuti peraturan. Politikus mengerti itu, ini lah tata cara membangun komunitas, tata cara membangun sebuah negara.

Dan tiba-tiba muncul "anak nakal". Pembenci peraturan. Dari berbagai macam usia. Membuat resah orang-orang sekitar, karena anak nakal ini membuat atmosfer kehidupan mereka menjadi tak normal. Ada yang harus ditanyakan lagi; Ada yang harus dijawab. Itu menyebalkan.

Tangkap saja, dan jebloskan ke penjara. Mudah.

Anak yang dianggap nakal ini hanya bisa bilang, "peraturan itu menyakiti diri saya." Normal saat dirimu melawan jikalau ada yang menyakiti. Pilihannya hanya dua, pura-pura menyukai peraturan tersebut, atau menghancurkannya.

Peraturan yang dibuat oleh negara, hingga kata mereka dibuat oleh hal yang bersifat supranatural, memiliki inti sama. Tetap bisa menyakiti manusia. Bagi para pengikut setia, menyingkirkan anak nakal itu kerap harus dilakukan. Hal ini membutuhkan tenaga mayoritas tentunya.

Dan sekali lagi, apakah kamu masih mau "mendengarkan"?

Banyak manusia yang merasa bahwa mereka sudah berada di jalan yang terang. Lantainya terbuat dari emas, dikelilingi awan putih nan indah, dan selalu mendengar para malaikat bernyanyi dengan merdunya. Mereka bersama-sama merasa nyaman, dan tak ingin keluar dari jalan terang tersebut.

Bagi anak nakal, kami dibuat 'merasa' berada di tanah yang gersang pada malam hari. Anginnya begitu dingin karena matahari pun tak pernah bersinar. Itu lah perasaan yang harus digeluti setiap harinya oleh kami di tengah komunitas penyayang peraturan tersebut.

Dihakimi.

Namun malam tak pernah gelap seperti dulu lagi. Tuhan memberikan bintang kecil yang sinarnya berkelip saat kita melihat ke atas. Ada hal supranatural disini yang tak bisa kita mengerti. Meskipun hari-hari terasa dingin, kita tak akan pernah sendiri. Bersama, muncul rasa hangat yang kita idam-idamkan sejak pertama kali kita melihat dunia (atau mengetahui ada peraturan).

Bagi anak terang, sinar disekeliling mereka begitu menyilaukan, hingga rasanya sudah susah untuk menatap. Senandung para malaikat pun terlalu nyaring, hingga jeritan hati teman-temannya jadi malas didengar.

Apakah sinarmu begitu terang, hingga bisa menghakimi sesama manusia?

Saya memutuskan untuk menghancurkan peraturan tersebut.

ohhgetoo

Independent but not a sociopath

No comments:

Post a Comment