Tentang Film Mindhunter - Season 2

Akhirnya, another "American Crime Story", yang ternyata muncul di season ke-2 serial TV "Mindhunter". Jika season pertama berisi full pengenalan awal tentang divisi baru agen FBI yang berfokus pada psikologi para serial killer, sekarang semua yang sudah dipelajari langsung dipraktekkan saat ada pembunuhan masif terhadap anak-anak kulit hitam di Atlanta pada tahun 1980.


Sejak episode terakhir di season pertama, Holden Ford (Jonathan Groff)kini memiliki penyakit 'panic attack'. Ia sama sekali tak sadar kalau kedekatannya dengan Ed Kemper berhasil membuatnya takut setengah mati. Rasa percaya dirinya mengikis selama berhari-hari sejak kejadian tersebut. 

Tapi keadaan sedang mendukungnya di season ke-2, karena insting dan gayanya mewawancarai para pembunuh terkenal itu berhasil membuat divisinya naik pangkat. Pihak direksi menyukainya dan ia memiliki banyak kebebasan untuk mengeksplor apa pun yang ia suka.

Masih ditemani oleh Bill Tench (Holt McCallany) dan Dr. Wendy Carr (Anna Torf), Ford mengungkapkan impiannya untuk mewawancarai Manson, yes! Charles Manson (Damon Herriman). Namun sebelum mencapai impiannya itu, ia harus menghadapi beberapa kasus terlebih dahulu, dan tiba lah kita pada fokus utama season ini, yaitu pada pembunuhan puluhan anak kulit hitam di Atlanta atau disebut Atlanta Murders.




Semua berawal sejak Ford 'diculik' oleh seorang pegawai hotel menuju ke perkumpulan Ibu-Ibu yang kehilangan anak mereka. Beberapa ada yang sudah ditemukan meninggal, dan masih ada yang masih menghilang. Tercium bau rasis disini, karena kasus mereka tak terlalu dipedulikan di kotanya saat itu. Hingga benar-benar sampai belasan anak yang ditemukan meninggal, baru lah kasus ini masuk ke ranah nasional, dan tim Ford diberikan ijin maksimal untuk membantu mereka.

Berbekal dari semua pelajaran yang berasal dari para serial killer yang sudah Ford dan tim-nya wawancarai, Ford pun langsung dengan berani membuat profile sang pembunuh, dan yang paling bikin greget adalah saat Ford lantang mengatakan pembunuhnya adalah pria kulit hitam. Banyak yang tak terima, karena para ibu-ibu percaya kalau ini adalah kasus rasisme dari seorang kulit putih yang membenci anak-anak kulit hitam. Saat itu pun KKK (Ku Klux Klan) masih berkeliaran untuk mengutarakan kebencian mereka terhadap warga kulit hitam.


Film ini seakan ingin menjawab kebenaran dari kasus yang masih menjadi pro dan kontra hingga sekarang. Karena saat pembunuhnya ditemukan (berdasarkan profile yang dibuat oleh Ford), masih banyak yang tak puas dengan putusan di persidangan. Namun jika kita sudah menontonnya dari season pertama, kita akan mengerti isi otak dari para pembunuh berantai tersebut.

Selain kita dibuat deg-degan saat sedang ditelusuri siapa pembunuhnya, kita juga akan turut merasakan kehidupan personal dari tokoh Bill dan Wendy. Konflik rumah tangga muncul saat anak angkat Bill yang masih kecil sedang terlibat kasus pembunuhan. Di lain sisi, Bill juga sedang mendapatkan promosi dari atasannya, sehingga karakternya yang terkenal sangat tenang menjadi penuh emosional kali ini. Kemudian Wendy juga sedang mengalami konflik dengan kisah cinta rahasianya bersama dengan wanita bar. Namun memang yang paling buat simpati adalah kisahnya Bill, sampai kita jadi kesal dengan Ford karena sifat egoisnya muncul saat sedang semangat-semangatnya memecahkan kasus.


Beruntung serial ini tampil di Netflix, jadi bisa langsung dibabat habis-habisan ke sembilan episodenya. Karena dibandingkan dengan season pertama, ini lebih seru. Khususnya karena ini berdasarkan kisah nyata yang ditulis oleh mantan agen FBI, John E. Douglas dalam bukunya, Mindhunter: Inside the FBI's Elite Serial Crime UnitSangat ditunggu kejutan baru yang akan muncul di season ke-3 nanti!

ohhgetoo

Independent but not a sociopath

No comments:

Post a Comment